Workshop BMC dan Social Enterprise

Baitul Maal merupakan bagian integral dari Baitut Tamwil. Sebuah bagian yang terintergasi dengan memiliki peran yang berfokus pada kepentingan sosial dan pemberdayaan. Seiring dengan tuntutan zaman, Baitul Maal diharapkan memiliki otonomi kerja yang profesional dan dinamis. Dengan misi menjadikan mustahik menjadi muzaki, tentu menuntut Sumber Daya Insani Baitul Maal agar lebih memiliki gagasan-gagasan brilian dan cara kerja yang kian produktif.

Nah, berangkat dari sinilah atas inisiatif PMBT Baitul Maal dan PBMT Social Ventures menyelenggarakan Workshop BMC (Business Model Canvas) dan Social Enterprise. Kegiatan workshop yang terselenggara pada 26 November 2015 yang bertempat di Aula BMT Amanah Ummah Sukoharjo lalu tersebut memiliki misi bahwa dengan BMC pemberdayaan akan tertata dan terencana. Juga dengan Social Enterprise pemberdayaan akan lebih terpadu.
Menurut ketua panitia kegiatan, Arif Lutfi A, workshop tersebut lebih bertujuan pada pembinaan insan Baitul Maal agar dalam merumuskan kegiatan sosialnya lebih terpadu, terarah, dan terencana. “Acara ini sengaja kami selenggarakan dalam upaya membentuk sebuah tim baitul maal yang kian terlatih dan terdidik. Lebih dinamis dan profesional sebagai pekerja sosial,” ujarnya.
Selain itu, Lutfi menambahkan, kreativitas baitul maal dalam membuat terobosan di bidang pemberdayaan umat juga penting. Dengan harapan perwujudan dari misi menjadikan mustahik menjadi muzaki bisa terlaksana.

Hadir sebagai pembicara utama dalam workshop tersebut ialah Jamil Abbas, General Manager PBMT Social Ventures. Dalam kesempatan itu, Jamil menerangkan tentang konsep problem solving yang pas terhadap masalah sosial-ekonomi dan pemberdayaan umat. Misalnya, bagaimana Jamil meyakinkan kepada peserta workshop bahwa konsep menolong fakir miskin lebih tepat jika memberi ‘kali’ ketimbang ikan. Menurutnya, konsep tersebut lebih edukatif dan bersifat jangka panjang bagi si fakir miskin itu sendiri untuk lebih bisa segera mandiri.

Bukan hanya itu, acara yang terbagi dua sesi tersebut juga mengajak semua peserta workshop dari Baitul Maal se-soloraya yang berjumlah sekitar 45 orang untuk lebih merencanakan dan menata ulang dalam program pemberdayaan umat. “Kini pemberdayaan umat haruslah ditangani secara serius, terpadu dan tertata. Bukan lagi serampangan yang menjadikan umat tak bisa segera mandiri,” katanya.

Salah satu dari bentuk tertatanya program pemberdayaan tersebut ialah melalui dukungan langsung kepada mereka dengan pola yang dimulai dari pelatihan, permodalan, mentoring hingga pengembangan usaha.

“Ingat bahwa fokus kerja Baitul Maal ialah pada human-nya, manusianya. Karena dari manusianyalah segala keadaan bisa berubah ke arah lebih baik. Semakin manusianya berketrampilan, beretos kerja kuat dan memiliki motivasi hebat untuk mandiri, maka nasib akan lebih mengarah ke yang lebih baik,” imbuhnya. Dari acara itu, Jamil juga memaparkan bagaimana menganalisa sebuah usaha atau bisnis yang bisa dimanfaatkan bagi pemberdayaan umat.
Safangat, selaku staf Baitul Maal BMT TUMANG yang hadir dalam acar workshop tersebut mengaku sangat senang dengan diselenggarakannya workshop sehari itu. Menurutnya, workshop tersebut seolah-olah telah membuka fikirannya untuk lebih dinamis dan kreatif dalam upaya memberdayaan umat. “Ternyata kita sebagai insan Baitul Maal tidak boleh statis dan pasif. Harus terus berkembang dan kreatif dalam membina umat agar bisa mandiri. Sebab, tantangan ke depan akan jauh lebih berat,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top