Kekayaan Tanpa Ketakwaan

“Mencari yang haram saja susah apalagi yang halal”. Demikian kalimat yang biasa terlontar dari seseorang yang dihinggapi rasa putus asa dalam menjemput rezekinya Allah SWT. Sadar atau tidak, sebenarnya itu adalah kalimat yang syarat penyesatan. Yang menjebak dan menggiring kita untuk tidak lagi peduli dengan rambu-rambu syariat, mengabaikan hukum halal-haram dalam memburu harta. Mirisnya lagi hingga ada yang rela menjual kehormatan, bahkan agamanya hanya demi kepemilikan ‘dunia’ yang fana.

Memang, tidak sedikit dari kita yang mengeluhkan susahnya mencari penghidupan. Entah karena alasan minimnya ketrampilan, kesempatan kerja yang rendah, derajat keilmuan yang kurang memadai, atau yang lain. Namun, bukan berarti dengan alasan-alasan itu lantas kita ditolerir mencari rezeki dengan jalan menyimpang. Sebab, apapun alasannya kita tidak dibenarkan mencari rezeki yang diharamkan oleh agama. Sumber rezeki yang halal lebih banyak dan lebih mudah didapat.

Kiranya kita tak perlu khawatir, selagi ada penyempurnaan ikhtiar dengan kesungguhan dalam berusaha niscaya Allah SWT akan mencukupi kebutuhan kita. Percayalah bahwa rezeki kita sudah pasti dan tidak akan tertukar dengan rezeki orang lain.

Banyak efek yang akan terjadi jika keimanan tentang rezeki ini diyakini secara meluas, sehingga kita tidak perlu lagi memakai cara-cara kotor dan dilarang oleh Allah SWT. Justru perbuatan curang dan tidak jujur dalam mencari rezeki itulah yang akan semakin menghimpit kehidupan kita. Menghinakan diri di mata manusia dan Allah SWT. Kita harus tetap bersabar dengan jalan yang halal, walaupun tidak semua jalan yang halal itu mudah. Bertahanlah dengan jalan yang halal sekalipun rezeki yang diperoleh tak seberapa.

Apalah arti kekayaan berlimpah jika hal itu didapat dari cara-cara yang tidak dilambari ketakwaan kepada Allah SWT. Sebuah cara hina, kotor yang mengundang murka Allah SWT dan memberi dampak ketidakberkahan manakala kita mengonsumsinya. Kekayaan yang diupayakan tanpa ada ketakwaan adalah sebuah pusaran dosa. Tidak saja dari sisi praktiknya, namun juga sifat dari kekayaan itu sendiri. Terlebih ketika kita membelanjakannya.

Andai saja para pejabat di negeri ini memahami konsep yang benar tentang rezeki ini, maka mereka tidak bakal was-was akan kekurangan rezeki sampai harus menjadi koruptor. Jika para pedagang memahami konsep rezeki ini, maka tidak akan ada lagi praktik curang dengan mengurangi takaran timbangan. Allahu’alam bishowab. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top