Jatuh Cinta saat Puber Kedua

Saya akui saya sering Facebook-kan dengan bekas adik kelas. Awalnya dia mengungkapkan cerita-cerita lucu saat SMA, akhirnya dia mengatakan kagum dengan kecantikan dan kepandaian saya.

Sebenarnya dia sudah menikah dan punya istri cantik dengan satu anak, tetapi dalam Facebook dia sering mengirimi saya puisi yang menyatakan kekaguman. Kami tidak pernah ketemu muka dan kami menyadari hubungan kami tidak tertuju pada sesuatu yang serius.

Namun, akhirnya karena perhatian yang dia berikan, saya mulai curhat hubungan saya yang kurang mesra dengan suami. Saya merasa ada seseorang yang memperlakukan saya dengan cara berbeda dengan apa yang dilakukan suami dan saya merasa benar-benar tersanjung… (Ny. L – 43 th).

 

Pernahkan Anda menyaksikan peristiwa yang serupa dengan kasus di atas? Jika ya, berarti bisa jadi itu tanda masa puber kedua telah datang. Sebuah masa-masa yang bisa dibilang rawan jika tidak mampu memaknai dan menyikapinya secara benar. Sebab, akan bisa merusak hubungan dengan pasangan. Kok bisa?

Puber kedua adalah masa perkembangan jiwa sehubungan dengan perubahan sikap dan perilaku terkait masa perkembangan jiwa antara kisaran 39/40-45 tahun. Puber kedua bisa terjadi pada laki-laki dan perempuan.

Pada masa ini biasanya yang banyak diulas masalah keengganan menghadapi masa tua, sehingga muncul perilaku yang terkesan sama dengan perilaku remaja usia 17-20 tahun. Perilaku tersebut menyangkut sikap heteroseksual, romantisme, dan minat psikoseksual kepada perempuan remaja dengan penyertaan berlebihan yang membawa konsekuensi gangguan hubungan perkawinan yang sering berakhir dengan perceraian.

Kasus yang sedang dialami Ny. L di atas menunjukan bahwa dia memiliki kebutuhan emosional khusus pada usia awal masa dewasa dan mengalami krisis emosional yang sama dengan krisis yang dihadapi puber kedua lelaki. Dan Ny. L merasa mendapat peluang mengungkapkan kebutuhan psikologis khusus itu.

Ny. L sudah lama mendambakan perlakuan manis dari suami, sehingga saat akhirnya berada dalam masa puber kedua kebutuhan akan perlakuan manis, kenyamanan, dan keamanan emosional yang seyogyanya dipenuhi suami dari awal perkawinannya ternyata justru diperoleh dari kehadiran adik kelas. Dalam bahasa lain dalam diri Ny. L menunjukkan besarnya energi psikologis yang mendorong kebutuhan interaksi psikoseksual yang penuh romantisme untuk membuat dia merasa benar-benar dihargai keberadaannya secara utuh.

Apa yang dirasakan Ny. L adalah bentuk krisis paruh usia (midlife crisis). Di mana pada masa ini merupakan periode yang sulit, penuh gejolak, keraguan, dan menilai kembali hidup seseorang. Akhirnya, pada masa ini segala bentuk kebutuhan akan gairah kasih timbal-balik dengan pasangan, romantisme dalam jalinan kasih, dan rasa aman dalam kehidupan perkawinan muncul ke permukaan.

Sekali lagi, krisis paruh usia ini bisa dialami lelaki dan perempuan. Bagi perempuan dalam stagnansi, kebosanan, sama berbahayanya dengan lelaki. Ia juga bisa jatuh cinta dan kasmaran dengan lelaki lain yang menjanjikan kewibawaan, kedewasaan, pengetahuan lebih dari suami. Di masa inilah proses menilai pasangan lebih tajam dan lebih menguliti. Hidup yang telah terlampaui separuh usia seolah berlalu dalam kehampaan, tanpa mengukir prestasi apapun.

 

Melewati puber kedua

Agar puber kedua ini tidak menjadi bumerang dan menjadi pemantik bagi keretakan hubungan dengan pasangan, maka dibutuhkan pola kehidupan baru. Dengan tujuan untuk menyalakan kembali semangat yang mulai punah. Pola baru ini bukan hanya berlaku bagi pasangan baru, pasangan lama pun perlu dibangkitkan kembali gairahnya untuk menemukan hal-hal menakjubkan dalam hidup.

Pola kehidupan baru tersebut antara lain, memperbaiki cara berfikir, hubungan transendental harus lebih fokus. Di mana kehidupan semakin bergerak maju dan tua, bukan semakin muda. Perbaiki pula sedikit demi sedikit ibadah, persepsi, dan kerja hati. Termasuk memperbaiki hubungan dengan orangtua, saudara, teman-teman, sahabat, dan lingkungan.

Sementara dengan keluarga sebagai pelabuhan, tempat berteduh, tempat mengobati kelelahan harus mendapatkan porsi perhatian. Ajak pasangan melihat apa yang kurang dalam keluarga. Bangun kembali nuansa romantisme dengan pasangan. Juga keterbukaan antar pasangan sangatlah penting dalam mengarungi masa puber kedua. Namun, di atas semua itu ada sebuah komitmen yang wajib dipertahankan bersama. Komitmen untuk tidak saling khianat.

Sekali lagi, masa pubertas kedua atau krisis paruh baya perlu dihadapi dengan persiapan yang matang. Karena biasanya di sinilah komitmen sebuah pernikahan diuji kembali. Komunikasi dan pemahaman suami istri sangat berperan dalam melewati masa-masa kritis sebuah bahtera rumah tangga. Khususnya, dalam melewati masa krisis paruh baya. Untuk itu, pemahaman tentang masa-masa pubertas kedua ini sangat penting bagi pribadi maupun pasangan. Jangan biarkan masa puber kedua justru menjadi momok bersama. Namun, lewatkanlah masa puber kedua dengan cara yang menyenangkan. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top