SUKSES DALAM SEMANGKUK BUBUR

Pada umumnya, seseorang akan menjadikan keahliannya sebagai sumber penghidupan atau mata pencaharian. Namun, pendapat itu ternyata tidak selamanya benar. Pasalnya, tidak sedikit orang yang justru memiliki matapencaharian bukan dari keahlian atau keilmuan yang dulu pernah dipelajarinya semasa menempuh pendidikan atau pelatihan. Namun, justru dari ‘pengamatan’ langsung di lapangan. Lantas, setelah dirasa lebih menguntungkan mereka langsung mengambil keputusan untuk mengikuti jejaknya.

Hal inilah yang juga dialami Hambali Sulaiman, warga Dukuh Bulu Kerto Rt. 11/02, Desa Mliwis, Cepogo, Boyolali. Kepada redaksi POKUSMA, bapak 4 anak ini bercerita panjang soal perjalanan usahanya. “Awalnya pekerjaan saya sebagai tukang las pipa kilang minyak,” akunya. Namun, profesi tersebut tak bertahan lama. Selain menanggung risiko yang berat, Hambali –demikian pria ini biasa dipanggil — upah yang diperoleh pun terasa tak mencukupi.

Dalam bahasa lain, suami dari Eti Setyawati ini mengistilahkannya sebagai uang “panas”. “Entah mengapa upah yang diterima tidak bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Apalagi menyisihkannya untuk ditabung. Sulit sekali,” kenangnya sembari tersenyum. Padahal, lanjut Hambali, proyek yang dikerjakan adalah berskala nasional.

Lelah dengan keadaan itu terlebih ditambah desakan kebutuhan yang semakin kuat, akhirnya Hambali menyerah. Dia membutuhkan sesuatu yang ‘beda’. “Jika harus bertahan di proyek pemasangan pipa kilang minyak, urusan ekonomi rumah tangga bakal tekor terus,” tegasnya. Akhirnya, dia pun berkunjung ke rumah ayahnya di Kendal untuk membantu jualan bubur kacang hijau. Lama Hambali membantu ayahnya, menjadikan dia tahu betul bagaimana menjalankan usaha bubur kacang hijau. Mulai dari pemilihan bahan baku, resep dan pengolahan, hingga penjualan. “Saya melihat berjualan bubur kacang hijau lebih menguntungkan dan risikonya lebih kecil dibanding menjadi tukang las,” tuturnya.

Maka, sejak saat itu dia bertekad untuk meninggalkan profesinya sebagai tukang las dan berganti dengan jualan bubur kacang hijau. Dengan mengucap basmallah, Hambali memulai jualan bubur kacang hijau atas ridho orang tua dan istri. “Modal awal adalah menjual mas kawin istri, pinjaman bulik dan sedikit pemberian uang dari orang tua,” ujarnya.

Ridho orang tua adalah ridho Allah SWT. Mungkin demikian ungkapan yang pas untuk profesi baru Hambali sebagai penjual bubur kacang hijau. Pasalnya, usahanya terbilang sukses. Lambat laun dia bisa mengembalikan pinjaman modal dari buliknya, bahkan bisa membeli sebidang tanah di tanah kelahirannya, Batang, Jawa Tengah.

Namun, seperti kisah pengusaha lain bahwa sukses yang diraih bukan berarti nihil hambatan. Situasi politik negara yang bergejolak ternyata berdampak pada perekonomian masyarakat, sehingga berujung dengan lemahnya daya beli. “Saya memulai usaha di Batang, lantas di Dieng Wonosobo. Namun semua harus kandas lantaran keadaan ekonomi masyarakat, hingga akhirnya Allah SWT ‘mengarahkan’ saya ke Boyolali. Tepatnya di Pasar Cepogo, Boyolali sebagai tempat usaha saya hingga sekarang ini,” kata pria 50 tahun ini.

Ya, sejak akhir tahun 1999 Hambali memilih Pasar Cepogo sebagai tempat mangkal usaha bubur kacang hijau. Selama 16 tahun, dia bertahan dan telah mampu ‘merebut’ hati pembeli. Dengan menjual produk yang berkualitas dan etika berdagang yang mengutamakan kejujuran, Hambali mampu meraup omzet rata-rata 500 ribu rupiah sekali jualan. Meski kelas kaki lima, namun bubur kacang hijau milik Hambali sudah dikenal masyarakat luas.

Dengan mengandalkan strategi promosi gethok tular, Hambali terang-terangan akan mati-matian dalam mempertahankan kepercayaan pelanggan. Karenanya, dia memilih fokus untuk tetap berjualan bubur kacang hijau dan tidak ada niatan untuk membuka cabang apalagi melirik usaha lain. Malah dengan nada serius Hambali mengatakan bahwa seandainya ada seseorang yang membeli tempat jualan dan seluruh perangkat yang dia gunakan dengan nilai puluhan juta rupiah, bakal tidak akan diberikan.

Disinggung soal akses permodalan, Hambali mengaku telah menjadi anggota BMT TUMANG sejak lama. “Saya merasa cocok dengan BMT TUMANG, di samping syarat yang mudah, juga secara batiniyah lebih menentramkan dan mengundang keberkahan,” ujarnya.

Sementara ditanya perihal kunci sukses yang sesungguhnya dalam usaha bubur kacang hijau, Hambali lebih menekankan pada aspek illahiah. Yakni salah satunya dengan sedekah. “Sedekah adalah salah satu sarana ‘memancing’ rezekinya Allah SWT, di samping menyempurnakan ikhtiar lahiriyah,” pungkasnya (Raka)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top