Inilah Pemikiran Ekonomi Ibnu Taimiyah

 

Ibnu Taimiyah. Siapa yang tidak mengenal tokoh yang  bernama lengkap Taqayuddin Ahmad bin Abdul Halim ini. Lahir di Kota Harran pada 22 Januari 1263 M, Ibnu Taimiyah merupakan sosok yang terlahir dari keluarga yang berpendidikan. Ayah, paman dan kakeknya merupakan ulama besar Mazhab Hanbali dan penulis sejumlah buku.

Karena kecerdasan dan kejeniusannya, Ibnu Taimiyah yang berusia masih sangat muda telah mampu menamatkan sejumlah mata pelajaran, seperti tafsir, hadis, fikih, matematika, dan filsafat, serta berhasil menjadi yang terbaik diantara teman-teman seperguruannya. Ketika berusia 17 tahun, Ibnu Taimiyah telah diberi kepercayaan oleh gurunya, Syamsuddin Al-Maqdisi, untuk mengeluarkan fatwa.

Di ranah ekonomi, banyak pemikiran yang telah disumbangkan Ibnu Taimiyah. Salah satunya ialah soal mekanisme pasar. Ibnu Taimiyah memiliki sebuah pemahaman yang jelas tentang bagaimana dalam suatu pasar bebas, harga ditentukan oleh kekuatan permintaan dan penawaran.

Menurutnya naik dan turunnya harga tidak selalu diakibatkan oleh kezaliman orang-orang tertentu. Terkadang, hal tersebut disebabkan oleh kekurangan produksi atau penurunan impor barang-barang yang diminta. Oleh karena itu, apabila permintaan naik dan penawaran turun, harga-harga naik.

Di sisi lain, apabila persediaan barang meningkat dan permintaan menurun, harga pun turun. Sementara, kelangkaan atau kelimpahan ini bukan disebabkan oleh tindakan orang-orang tertentu. Baik yang mengandung kezaliman atau bukan.

Ibnu Taimiyah juga mencatat beberapa faktor yang mempengaruhi permintaan serta konsekuensinya terhadap harga diantaranya, keinginan masyarakat (raghbah) terhadap berbagai jenis barang yang berbeda dan selalu berubah-ubah. Perubahan ini sesuai dengan langka atau tidaknya barang-barang yang diminta. Semakin sedikit jumlah suatu barang yang tersedia akan semakin diminati oleh masyarakat.

Di samping itu, Ibnu Taimiyah juga mencermati persoalan regulasi harga. Tujuan regulasi harga adalah untuk menegakan keadilan serta memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Dalam hal ini, Ibnu Taimiyah membedakan dua jenis penetapan harga, yakni penetapan harga yang tidak adil dan cacat hukum serta penetapan harga yang adil dan sah menurut hukum. Penerapan harga yang tidak adil dan cacat hukum adalah penetapan harga yang dilakukan pada saat kenaikan harga-harga terjadi akibat persaingan pasar bebas, yakni kelangkaan supply atau demand. (*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top