Pengusaha itu Harus Siap Rugi

Banyak orang menganggap bahwa sampah sebagai barang bekas yang sudah tidak bermanfaat. Baik dari sisi fungsi maupun nilai ekonomisnya. Maka, bukan hal yang aneh jika banyak orang yang sudah tidak peduli lagi dengan sampah.

Namun, tidak demikian dengan pengusaha yang satu ini. Dia justru menjadikan sampah, khususnya dari jenis kaleng bekas, sebagai sumber bagi kelangsungan usaha yang dia jalankan sejak tujuh tahun silam. Ya, dia adalah Suharto, warga RT 2 RW 1, Dungus, Seboto, Ampel, Boyolali. Dengan berbahan baku sampah atau limbah, khususnya dari jenis kaleng bekas, usaha yang bergerak di bidang peleburan limbah aluminium ini mampu menembus pasar luar kota. Bahkan lintas provinsi.

Dengan modal awal Rp 100 juta, Harto –demikian biasa disapa– harus berjuang dari nol dalam membangun usahanya tersebut. Kepada POKUSMA Harto mengaku usaha peleburan limbah aluminium miliknya pada awalnya hanya ‘memanfaatkan’ salah seorang karyawan yang memiliki keahlian melebur limbah aluminium yang sedang menganggur. Sementara, dia sendiri tidak tahu sedikit pun terkait dengan usaha tersebut.  “Mulanya saya hanya memberi modal seorang karyawan yang sebelumnya telah memiliki keahlian dalam hal peleburan limbah aluminium,” ujarnya.

Akhirnya, dengan keyakinan yang kuat Harto bertekad membangun usahanya secara serius. Layaknya pengusaha-pengusaha pada umumnya, awal-awal mendirikan usaha pasti tidak mudah. Terlebih tidak ada pengalaman sebelumnya. Trial and error adalah hal yang biasa dalam dunia usaha. Hal ini pula yang dialami Suharto. “Di tiga bulan awal saya merugi 10 juta. Sebab, saya masih bingung ‘membaca’ harga pasar,” kenang suami dari Narmiyati ini.

Namun, masa trial and error yang dia alami tersebut tidak menyurutkan langkah bapak tiga anak ini untuk terus mengembangkan usahanya. Dia menganggap bahwa kerugian dalam dunia usaha adalah hal yang lumrah. “Rugi atau untung adalah siklus alami dan lumrah. Jadi, saya tidak terlalu merisaukannya. Anggap saja kerugian itu adalah biaya pendidikan untuk lebih mengetahui ilmu usaha ini,” katanya.

Benar juga. Pengalaman demi pengalaman telah menempanya untuk menjadi sosok pengusaha yang tangguh. Terbukti saat ini dia sudah memiliki pasar tetap sebagai pelanggannya. Baik pabrik velg, onderdil mobil hingga pabrik wajan penggorengan. Dengan demikian bisa dibilang usaha yang dimilikinya sudah mapan. Indikatornya bisa dilihat dari volume order produk yang relatif stabil. “Per minggu rata-rata 4 ton produk kami kirim ke pelanggan,” paparnya.

Volume pengiriman produk yang menjadi bahan baku pembuatan velg, onderdil dan wajan penggorengan ini sebenarnya bisa lebih. Hanya saja menurut Harto, faktor modal menjadi kendala. Maka, bukan hal yang aneh jika para pengusaha sejenis dengan permodalan lebih besarlah yang memenangkan persaingan tersebut. Bahkan bisa memonopoli usaha  ini. “Jika saja memiliki modal yang lebih besar, maka bisa memacu stok produk melebihi rata-rata,” tandasnya.

Hanya saja Harto tidak terlalu khawatir terhadap persaingan dengan pemilik modal besar. Dia berani bersaing lantaran ada garansi kualitas produk yang dia berikan. “Mungkin dari sisi modal saya masih terbatas, namun soal kualitas tidak mau kalah,” ujarnya. Sejauh ini produk yang dihasilkan terdapat tiga kualitas yang berbeda. Dari yang memiliki kadar aluminium terbanyak hingga yang terkecil.

Sementara ketika disinggung soal omset, dengan nada diplomatis Harto mengaku ada progres di tiap tahunnya. “Alhamdulillah omset lumayan,” ujarnya sembari tersenyum. Berangkat dari usaha yang bisa dibilang telah mapan itulah Harto memiliki optimisme untuk bisa lebih maju. Pada tahun 2015 dia menargetkan memiliki lahan sendiri untuk proses pengerjaan peleburan. “Selama ini proses peleburan limbah masih menyewa lahan milik tetangga,” akunya.

Sebagaimana para pengusaha yang lain, pasti ada rahasia di balik keberhasilan Harto dalam membawa usahanya agar tetap eksis. Menurutnya menjadi pengusaha itu harus jujur dan memberikan kualitas terbaik untuk setiap produk atau jasa yang dijual. “Pengusaha juga harus paham dengan usaha yang akan ditekuni dan siap rugi,” tandasnya.

Namun, di balik itu semua, alumnus STIE AKA Semarang ini mengakui bahwa apapun usaha yang ditekuni haruslah diniatkan untuk ibadah kepada Allah SWT. “Mindset seorang pengusaha janganlah melulu soal untung lantas menumpuk harta, namun wajib disisipi untuk berbagi kepada sesama,” pungkasnya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top