Menghitung Potensi Wakaf Uang

Potensi umat Islam yang secara kuantitatif relatif lebih banyak, sesungguhnya menjadi simbol kekuatan sekaligus modal besar bagi umat Islam itu sendiri. Salah satunya ialah kekuatan ekonomi. Adapun bentuk dari kekuatan ekonomi tersebut salah satunya ialah penghimpunan wakaf. Sayangnya, potensi yang demikian besar ini belum tergarap secara maksimal.

Pasalnya, mayoritas umat Islam masih memahami potensi wakaf sebatas berwujud tanah dan bangunan alias harta tak bergerak. Pemaknaan yang ‘sempit’ itulah yang pada gilirannya pula mempersempit pertumbuhan umat Islam dari aspek kekuatan ekonomi. Padahal, wakaf harta yang ‘bergerak’, justru memiliki potensi jauh lebih besar.

Bahkan, nilai gunanya akan lebih besar pula jika dimanfaatkan secara baik. Dan potensi kekuatan ekonomi umat Islam yang belum dimaksimalkan itu ialah wakaf uang. Boleh jadi jika wakaf uang ini bisa digarap secara serius dan menjadi sebuah kesadaran bersama maka bukan mustahil akan menjadi ‘senjata’ andalan bagi umat Islam.

 

Apa wakaf uang itu?

Sesungguhnya dalam sejarah Islam, masalah wakaf uang (waqf an-nuqud) telah berkembang dengan baik pada zaman Bani Mamluk dan Turki Usmani. Namun, baru belakangan ini menjadi bahan diskusi yang intensif di kalangan para ulama dan pakar ekonomi Islam.

Pengembangan wakaf dalam bentuk uang yang dikenal dengan cash wakaf sudah dilakukan sejak lama di masa klasik Islam. Bahkan dalam sejarah Islam, wakaf uang sudah dipraktikkan sejak abad kedua hijriyah. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa Imam az Zuhri (wafat 124 H), memberikan fatwanya untuk berwakaf dengan Dinar dan Dirham agar dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembangunan, dakwah, sosial, dan pendidikan umat Islam. Cara yang dilakukan adalah dengan menjadikan uang tersebut sebagai modal usaha (modal produktif) kemudian menyalurkan keuntungannya sebagai wakaf.

Pendapat inilah yang dikutip Komisi fatwa MUI –lantas mengeluarkan fatwa pada 11 Mei 2002– dalam melegitimasi wakaf uang. Dengan dikeluarkannya fatwa itulah berarti konsep wakaf yang dulu lebih beridentik dengan tanah milik, maka konsep wakaf yang baru ini berdimensi lebih luas. Ia mencakup harta tidak bergerak maupun yang bergerak, termasuk wakaf tunai.

Sebagai gambarannya, untuk menjadi pewakif (orang yang berwakaf) tidak mesti harus memiliki aset bangunan atau tanah terlebih dahulu. Namun, dengan uang setidaknya Rp 10.000 saja kita sudah bisa menjadi pewakif.

Adapun sifat utama dari perwakafan mengharuskan kekal dan abadi pokok hartanya, lalu dikelola dan hasilnya disalurkan sesuai dengan peruntukannya. Hal ini begitu selaras dengan program sistem jaminan sosial atau asuransi.

Selain itu, dana yang diwakafkan pun tak akan berkurang serupiah pun. Justru, dana itu akan berkembang melalui investasi yang dijamin aman. Tentunya, jika dikelola secara amanah, profesional dan transparan. Dari sisi kemanfaatannya pun berdimensi lebih luas, tidak terbatas untuk pendirian tempat ibadah dan sosial keagamaan. Namun juga bisa menyentuh perbaikan kualitas pendidikan dan pemberdayaan ekonomi umat. Jelas, ini adalah suatu perubahan yang sangat revolusioner dan memiliki dampak positif yang berlipat ganda.

Dalam bahasa lain, wakaf uang merupakan suatu gerakan baru dalam dunia perwakafan,  terutama di Indonesia. Yang mampu mengambil peranan signifikan dalam merancang program-program pemberdayaan umat. Sebab tugas memberdayakan umat bukanlah tugas pemerintah semata, namun setiap elemen masyarakat harus turut serta dalam memberdayakan umat.

 

Potensi wakaf uang

Khusus berhitung soal potensi, maka potensi wakaf uang begitu besar. Sebagai ilustrasi, seandainya ada 10 juta umat Islam di Indonesia mewakafkan uangnya, mulai dari Rp 1.000 sampai Rp 100 ribu per bulan, maka minimal dana wakaf uang yang akan terkumpul selama setahun bisa mencapai Rp 2,5 triliun. Angka tersebut secara otomatis akan bertambah seiring dengan jumlah wakif (sebutan bagi pembayar wakaf) dan jumlah nominal uang yang diwakafkan. Dana sebesar tersebut jika dimanfaatkan untuk pemberdayaan ekonomi umat, maka persoalan himpitan ekonomi yang kerapkali lebih dialamatkan ke umat Islam akan bisa segera teratasi.

Namun sekali lagi, penghimpunan dana wakaf atau keberhasilan dari program ini hanya akan dapat terwujud jika semua elemen, baik pemerintah maupun lembaga swasta memiliki visi yang sama. Bergandengan tangan mengkampanyekan gerakan wakaf uang. Tanpa ada sinkronisasi dan gerakan yang masif dari semua elemen, maka akan sulit bisa terwujud. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top