Maaf, Aku Jenuh Padamu

 

“Win, heran nih kok aku merasa jenuh, Be Te dengan suamiku ya… Ingin rasanya break dulu. Berjauhan untuk sementara waktu. Kira-kira dosa nggak ya, Win dengan perasaanku ini?”

****

Demikian potongan curhat temanku, Wina tatkala bersilaturahim ke rumahku beberapa waktu lalu. Dia mengeluhkan perasaannya yang mengalami titik jenuh terhadap suaminya. Entah dengan alasan yang tidak jelas. Padahal untuk ukuranku, rumah tangga yang dia bangun selama 10 tahun bisa dibilang telah mapan. Dari sisi fisik, suaminya sosok pria yang ideal setidaknya untuk standar yang dia buat. Suaminya pun bukan tipe pria yang doyan ‘main’ serong. Dalam hal karir, mereka berdua pun berada di level terbaik. Zona nyaman.

Sementara anak-anaknya pun tumbuh dalam naungan limpahan kasih sayang. Singkatnya, gambaran rumah tangga yang dia bangun begitu harmonis. Jauh dari suasana pertengkaran. Namun, kenapa keadaan tersebut menjadikan dia merasa jenuh? Ingin menjauh dari suami dan anak-anaknya? Bukankah semestinya dengan kemapanan tersebut rasa kasih sayang dan cinta kasih diantara mereka terjalin semakin erat? Padahal, di saat yang sama banyak orang di luar sana yang memiliki pengharapan lebih agar bisa senantiasa menjaga kebersamaan dengan keluarga.

Apakah ada yang salah dengan cara Wina mencintai suaminya, sehingga begitu mudahnya digerogoti rasa kejenuhan? Benarkah Wina mencintai sang suami lantaran kebagusan fisik atau kemapanan karir? Atau justru Wina sendiri yang telah terjebak godaan pria lain?

Terlepas dari kumpulan rasa penasaran itu, aku bisa memahami bahwa sesungguhnya kejenuhan atau rasa bosan adalah hal yang lumrah dialami oleh siapa pun. Karena hal itu sudah menjadi fitroh manusia. Bukan saja soal kehidupan rumah tangga, namun dalam hal spiritualitas keimanan manusia pun bisa mengalami titik lemah, kejenuhan (Futur).

Seorang peneliti dari Researchers at National Autonomous University of Mexico mengungkapkan hasil risetnya yang begitu mengejutkan. Bahwa sebuah hubungan cinta pasti akan menemui titik jenuh, bukan hanya karena faktor bosan semata, tapi karena kandungan zat kimia di otak yang mengaktifkan rasa cinta itu telah habis. Rasa tergila-gila dan cinta pada seseorang tidak akan bertahan lebih dari 4 tahun. Jika telah berumur 4 tahun, cinta sirna, dan yang tersisa hanya dorongan seks, bukan cinta yang murni lagi.

Menurutnya, rasa tergila-gila muncul pada awal jatuh cinta disebabkan oleh aktivasi dan pengeluaran komponen kimia spesifik di otak, berupa hormon dopamin, endorfin, feromon, oxytocin, neuropinephrine yang membuat seseorang merasa bahagia, berbunga-bunga dan berseri-seri. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, dan terpaan badai tanggung jawab dan dinamika kehidupan efek hormon-hormon itu berkurang lalu menghilang. (Sumber: www.detik.com).

Jika benar penelitian tersebut sebuah fakta, maka dengan cara apa agar perasaan cinta kasih sayang kita terhadap pasangan bisa langgeng? Tidak terkikis oleh segala dinamika yang membersamai perjalanan biduk rumah tangga? Jelas, sejarah telah banyak mewariskan kisah-kisah yang menggambarkan betapa pendeknya usia pernikahan jika didasarkan pada satu alasan yang bersifat temporal. Yakni, semua atribut yang bersifat material-keduniawian. Filosofis cinta yang di bangun di atas semua itu akan sirna seiring dengan perjalanan waktu. Ada masa yang akan menjadi batas dari rasa cinta itu.

Beda halnya jika dari awal kita mencintai seseorang lantas mengikatnya dalam jalinan pernikahan yang sah atas dasar agama (Baca: iman, amal sholeh, dan akhlak yang mulia). Tentu akan memiliki masa yang jauh lebih panjang. Bahkan abadi. Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Bila ada seorang yang agama dan akhlaknya telah engkau sukai datang kepadamu melamar, maka terimalah lamarannya. Bila tidak, niscaya akan terjadi kekacauan dan kerusakan besar di muka bumi.” (HR. At Tirmizy dan lainnya).

Dengan cinta yang dibangun atas dasar iman, amal sholeh, dan akhlak yang mulia berarti secara tidak langsung kita telah ‘melibatkan’ Allah SWT dalam aktivitas kehidupan kita. Termasuk bagaimana melabuhkan perasaan cinta kepada calon pasangan hidup. Tidakkah kita mendambakan cinta yang senantiasa membersamai kita walaupun telah berada di alam kubur, bahkan kelak dibangkitkan di hari kiamat? Tidakkah kita akan bahagia jika pasangan hidup kita senantiasa setia dan mencintai kita hingga usia menua, bahkan telah menghuni liang lahat?

Tentu, jika landasan cinta kita terhadap pasangan telah didasarkan atas nama Allah SWT niscaya tidak akan terlontar kalimat “Maaf, aku jenuh padamu” atau kalimat-kalimat yang senada. Semoga, kesetiaan kita pada pasangan tak akan lekang oleh waktu. Semoga, segala rintangan, hambatan, dan kesulitan dalam hidup justru menjadikan ketahanan diri kita semakin kuat. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top