Terperangkap di Kubangan yang Sama

Tiap episode kehidupan manusia selalu dihiasi situasi emosi yang tak terduga. Adakalanya seseorang itu bersedih, adakalanya pula dia tersenyum. Kadang mencapai sebuah keberhasilan, namun di lain waktu dia mengalami kegagalan. Inilah siklus kehidupan yang kadang terulang kembali di kemudian hari. Terperangkap pada keadaan yang sama. Sama dengan situasi masa lalu. Bahagia jika keadaan itu berupa kesuksesan. Namun, sedih jika yang terulang berupa keterpurukan, baik itu kegagalan atau kemaksiatan.

Kegagalan merupakan kesuksesan yang tertunda. Batu ujian untuk mengetahui kesungguhan dan konsistensi kita ketika berjuang. Ketika menghadapi kegagalan, ada orang yang langsung putus asa. Ia lemah dan tidak siap menghadapi kegagalan. Hanya orang yang memiliki optimisme tinggi yang sanggup bangkit dari kegagalannya. Ia selalu melihat kesempatan ditiap kesempitan. Hatinya lapang dan pikirannya terbuka. Kegagalan dianggapnya sebagai pengalaman yang berharga. Sebuah pelajaran agar tidak terjatuh pada kubangan yang sama di masa depan. Baginya, hidup adalah ujian yang memang harus dihadapi. Percuma lari dari kenyataan, karena hanya akan membentuk mental pecundang.

Lantas, bagaimana jika maksud dari kegagalan itu adalah gagal lepas dari kemaksiatan? Terkadang manusia terjaring lagi dalam kubangan maksiat yang sama. Kubangan yang dulu pernah ia masuki. Setelah tekad bulat untuk bertaubat, kadang manusia tak sanggup lepas dari godaan dan keraguan. Terjerumus lagi dalam kesalahan yang sama. Godaan iblis begitu kuat sepanjang waktu. Benteng imannya terlalu lemah menahan serangan iblis. Hatinya pun kalah.

Ya, kemaksiatan telah mengeraskan hati, sehingga hati sulit untuk menerima hidayah. Kemaksiatan seolah mengandung candu, menyebabkan orang sulit lepas darinya. Perlu usaha dan kesungguhan yang besar untuk bisa meninggalkannya. Ingat, lepas dari kemaksiatan di masa lalu, bukan berarti kita terbebas darinya selamanya. Suatu saat ketika hati kita lengah, kemaksiatan itu akan menarik kita lagi. Apalagi jika situasi mendukung kemaksiatan itu untuk kembali terjadi.

Iman merupakan tameng yang kuat menghalau godaan iblis. Maka tameng ini perlu diperkuat setiap saat. Kita lapisi tameng kita dengan amalan yang ikhlas dan akidah yang lurus. Tameng kita pun akan kokoh melindungi diri kita dari tipu daya iblis. Perlu kita ingat bahwa serangan iblis terjadi dimanapun dan kapanpun. Tak mengenal waktu.

Kesolihan sesaat tiadalah berguna. Perlu konsistensi hingga akhir hayat. Penilaian tidak diberikan pada awal atau tengah perjalanan, namun diberikan pada akhir perjuangan. Perlu strategi yang jitu mengatur tenaga. Semangat berlebihan diawal justru menyebabkan kita lelah dan bosan seketika. Sementara perjalanan begitu panjang, maka perlu perhitungan dan nafas panjang pula untuk menjalaninya.

Kemaksiatan bisa mengerogoti sendi-sendi keimanan kita. Pahala yang telah terkumpul bisa terhapus olehnya. Perbuatan maksiat menyebabkan hati menjadi kelam. Perasaan kita berubah menjadi resah. Akal tidak lagi berpikir jernih. Kita dihantui dosa. Kemaksiatan membawa kita pada penyesalan tiada henti. Berat untuk lepas, layaknya magnet yang selalu menarik besi. Titik-titik hitam makin menggelapkan hati.

Setiap kita menyadari bahwa maksiat merupakan pelanggaran terhadap perintah Allah. Tidak mungkin seseorang menyandang gelar takwa, jika ia masih berlumur maksiat. Maksiat jelas perbuatan yang dilarang. Kita mengakui itu. Sejahat apapun manusia, ia sadar bahwa kemaksiatan merupakan perbuatan dosa.

Bangkit Dari Keterpurukan

Terlalu lama terbelenggu maksiat membuat kita masuk dalam keadaan bosan. Hidup menjadi begitu menjenuhkan. Kita ingin lepas dari kemaksiatan. Bersyukur, pintu taubat masih terbuka selama nafas belum terhenti di kerongkongan. Senantiasa ucapkan istighfar. Tak lupa untuk berdoa, memohon ampun pada-Nya. Kita selalu berharap, Allah mau menghapus dosa-dosa kita.

Optimisme perlu ditanamkan kuat pada diri kita. Suburkan optimisme hingga ia mengakar kuat dalam hati dan jiwa kita. Lupakan putus asa, karena rahmat Allah begitu luas. Karena begitu luasnya, bahkan dosa sebesar bumi pun akan diampuni-Nya. Namun, jangan lupa untuk melakukan taubat nasuha. Bertaubat dengan sungguh-sungguh, berjanji untuk tidak berbuat maksiat lagi. Seberat apapun dosa kita, segeralah bertaubat. Masih ada secercah cahaya selama roh belum tercabut. Hidupkan pikiran positif bahwa Allah Maha Mengampuni. Kita harus bertekad kuat untuk lepas dari kemaksiatan, sembari membentengi diri dengan iman dan amal sholih agar tidak terjatuh lagi. Terjatuh pada kubangan yang sama. (Dari berbagai sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top