Bisnis itu Harus Temen lan Setiti

 

Tak ada kesuksesan yang diraih secara instan. Pasti melalui proses yang panjang dan bahkan kadang harus berliku. Jatuh bangun dalam berbisnis adalah siklus alami yang lumrah dirasakan para pengusaha. Tak terkecuali oleh Bejo Santoso. Pria yang lebih terkenal dipanggil Bejo ‘Sayur’ ini adalah sosok pengusaha yang bisa dibilang tidak instan dalam meraih kesuksesan.

Perjalanannya menuju puncak kesuksesan sebagai pengusaha yang bergerak di bidang sayur mayur –wortel, tomat, kubis, timun, buncis, sledri, kentang, jipan– tersebut tidaklah gampang. Malah, suami dari Eka Wati mengaku harus berganti-ganti pekerjaan sebelum ‘menemukan’ usaha yang pas hingga saat ini. “Jauh sebelum fokus di usaha sayuran ini saya pernah ganti-ganti pekerjaan. Misalnya, jasa angkut pasir.” kata pria yang tinggal di Sidorejo RT 08/RW 01, Kembang Kuning, Cepogo, Boyolali ini.

Proses yang tidak instan tersebut secara tidak langsung telah menempa mental dan kejelian Bejo untuk memilih usaha atau bisnis yang strategis. Terutama dari potensi pasar. “Bisnis atau usaha sayuran tetap memiliki prospek bagus. Sebab, sayuran menjadi kebutuhan pokok masyarakat,” tandasnya.

Dengan alasan itulah, Bejo optimistis bisnis sayuran yang dirintisnya sejak tahun 1998 ini akan tetap bertahan. Indikasinya dapat dilihat dari stabilnya permintaan pasar yang sejauh ini tidak saja untuk mencukupi kebutuhan warga Boyolali, namun juga lintas kota. Semisal, Solo dan Gunung Kidul, Yogyakarta.

Dalam sehari, Bejo harus memasok kebutuhan sayuran setidaknya 2,5 ton yang didistribusikan ke beberapa wilayah atau kota. Kebutuhan tersebut belum termasuk saat memasuki momen-momen besar seperti hari raya. Otomatis akan ada lonjakan permintaan pasar.

Nah, soal keberhasilan Bejo dalam mengelola usahanya tentu bukan tanpa syarat. Pria 39 tahun ini mengaku bahwa untuk berhasil dalam satu bidang usaha dibutuhkan ketekunan dan keseriusan. “Istilah saya ialah bagaimana dalam menjalankan usaha itu yang temen dan setiti,” tandas ayah satu putra ini. Dua syarat itulah yang setidaknya memberi ‘energi’ baginya untuk menjalankan usahanya secara serius.

Sementara berbicara soal permodalan, Bejo mengaku bermitra dengan jasa keuangan syariah, yakni BMT Tumang. “Untuk modal saya bermitra dengan BMT Tumang dengan dana awal Rp 500 ribu,” akunya. Khusus membahas soal permodalan, Bejo mengaku ada pengalaman spiritual yang tidak bakal dilupakan. “Ternyata permodalan dari BMT Tumang lebih memberi keberkahan usaha dibanding ketika saya bermitra dengan jasa keuangan konvensional,” tegas pria tamatan SMP ini.

Bukan bermaksud membandingkan, lanjut Bejo, pembiayaan di jasa keuangan dengan sistem syariah secara langsung berdampak pada ‘kualitas’ usaha yang dijalankannya. Artinya, modal tersebut memiliki nilai kemanfaatan. “Pernah bermitra dengan jasa keuangan konvensional, tapi uangnya malah tidak berkah. Selalu habis dan tidak kembali, usaha pun tidak berkembang,” paparnya. Lantaran pengalaman itulah, semakin menyadarkan keyakinannya untuk selalu menjadikan jasa keuangan dengan sistem syariah sebagai mitranya, dalam hal ini BMT Tumang.

Pemberdayaan Petani

Sisi lain yang menarik dari praktik usaha Bejo ialah dengan memberdayakan para petani. Bejo sengaja mengajak para petani untuk bermitra dengan cara memberi mereka modal lantas hasil dari produk sayuran dari mereka dia tampung. “Selain untuk kepentingan usaha, cara tersebut juga dalam rangka memberdayakan ekonomi mereka,” ujarnya.

Praktik usaha tersebut ternyata terbilang tepat untuk membantu kehidupan para petani. Dengan prinsip saling membutuhkan dan saling menguntungkan di antara kedua belah pihak, maka tidak ada yang dirugikan malah semakin membantu mengokohkan kehidupan sosial masyarakat. “Ini bentuk kemitraan yang saling menguntungkan, tidak ada yang dirugikan,” tandasnya.

Kini, setelah menapaki tangga kesuksesan dalam usaha sayur, bukan berarti menjadikan Bejo ‘berhenti’ dalam melanjutkan mimpi yang selama ini belum terwujud. “Seperti kebanyakan orang muslim, saya juga berharap bisa diberi kesempatan Allah SWT untuk pergi berhaji,” pungkasnya. (Ragil)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top