Berzakat, Harta Barakah dan Bertambah

Apa artinya memiliki harta berlimpah, namun tidak barokah atau berkah? Sebagai seorang muslim, kebarokahan harta jauh lebih utama dibanding dengan jumlah harta itu sendiri. Artinya, harta yang barokah tidak mesti selalu dimaknai dari sisi jumlah atau nominalnya. Harta yang barokah selalu mencukupi kebutuhan yang dibutuhkan. Harta yang barokah bukan saja memberi nilai kemanfaatan bagi diri sendiri, namun juga orang lain. Dalam bahasa lain, harta sedikit tetapi barokah lebih baik daripada banyak harta namun tidak ada kebarokahan di dalamnya.

Kebarokahan sebuah harta tentu berpulang juga terhadap bagaimana cara mencarinya. Artinya, agar harta barokah maka didapatkan dengan cara yang halal dan dikeluarkan haknya berupa zakat dan sedekah sunah lainnya. Inilah cara yang ditetapkan Allah SWT, di mana mendapatkan, mengelola dan membelanjakan harta tersebut berdasarkan ketentuan-Nya.

Bukan sebuah pencarian harta atau rezeki yang dipenuhi keculasan dan menabrak rambu-rambu syar’i. Di mana motivasi yang terbentuk ialah sekadar untuk memperoleh harta dalam bilangan jumlah yang lebih. Segala daya dan upaya difokuskan guna mengeruk keuntungan yang sebanyak-banyaknya. Malah tidak sedikit yang bertindak tamak, akibatnya mereka tidak mempedulikan lagi bagaimana kaidah-kaidah agama yang benar yang mesti dijalankan dalam mencari rezeki.

Nah, salah satu contoh praktik buruk dari perilaku culas tersebut ialah ketika para pedagang atau pengusaha sudah tidak jujur dalam ukuran timbangan, atau menyembunyikan keadaan barang dagangan yang sesungguhnya kepada calon pembeli, dan sejenisnya. Praktik-praktik tersebut bisa dikatakan pemicu bagi ketidakbarokahan dari harta yang diperoleh.

Lantas, bagaimana mengenali ciri harta yang tidak barokah? Ciri harta yang tidak barokah salah satunya ialah akan cepat hilang. Ini akibat dari ketidakmampuan pemiliknya mengendalikan keinginan untuk segera membelanjakan uang yang sudah diperoleh. Setelah keinginannya terpenuhi pun, pada akhirnya si pemilik harta belum puas. Secepatnya dia akan kembali disibukkan dengan keinginan yang lain. Akhirnya, waktu produktifnya habis oleh bayangan keinginan yang belum terpenuhi. Dia tersandra oleh materi atau harta, sehingga jiwanya merasa selalu menderita.

Ini jelas berkebalikan dengan ciri harta yang barokah. Yakni, akan selalu bertambah. Namun, syarat agar harta bertambah ialah bagaimana kita membuat harta tersebut barokah terlebih dahulu. Yaitu, dari proses mendapatkannya yang halal, tidak dzulum, gharar, tadlis, riba, maisir dan dibelanjakan di jalan Allah dengan cara berzakat.

Dengan harta yang barokah, maka Allah SWT akan melipatgandakan harta yang dimiliki. Allah SWT berfirman yang artinya: “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah: 261).

 

Hakikat Berzakat  

Pentingnya berzakat ternyata belum sepenuhnya dimaknai sebagai sesuatu yang bermanfaat. Masih banyak kaum muslimin yang menganggap harta yang dikeluarkan zakatnya akan mengurangi nominal harta secara keseluruhan. Padahal jika dioptimalkan, zakat itu bukan saja memberi keuntungan secara pribadi, namun juga orang lain. Tidak ada bukti konkret bagi orang yang mengeluarkan hartanya atau berzakat menjadi miskin.

Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah SAW melalui hadis yang diriwayatkan oleh Muslim yang artinya: “Harta tidak akan berkurang karena sedekah (zakat) dan tidaklah Allah menambah bagi hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan dan tidaklah orang yang berlaku tawadhu’ karena Allah melainkan Dia akan meninggikannya.” (HR. Muslim)

Dari hadis tersebut Nabi SAW juga menegaskan bahwa dengan berzakat, maka harta yang dimiliki tidaklah berkurang namun justru bertambah. Dan Allah SWT lah yang memberi jaminan atas hal itu. Bahkan, dalam tiap hari ada ratusan malaikat yang diperintah Allah SWT khusus mendoakan orang-orang yang menginfakkan hartanya. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam shahih Bukhari: “Ya Allah, berikan rahmat kepada mereka yang infak hari ini. Ya Allah, berikan ampunan kepada mereka yang mengeluarkan infak hari ini. Ya Allah, berikan rezeki yang luas kepada mereka yang hari ini berinfak.” 

Nash-nash tersebut cukuplah menjadi landasan kuat betapa anjuran berzakat bukan saja akan mendatangkan kebarokahan namun juga bertambahnya jumlah harta yang dimiliki. Juga sekali lagi zakat bukan saja memberi kemanfaatan bagi pribadi muzakki (orang yang wajib zakat) itu sendiri, namun juga para mustahik (yang berhak menerima). Maka, saatnya menggelorakan semangat dalam diri untuk ‘menyucikan’ harta kita agar barokah dan sekaligus bertambah dengan cara berzakat atau bersedekah sunah lainnya. Mari berzakat. (*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top