Belajar dari Penyesalan Marilyn Monroe

 “Waspadailah popularitas wahai wanita… Waspadailah setiap kegemerlapan yang menipumu. Saya adalah wanita termalang di muka bumi ini, sebab saya tidak bisa menjadi seorang ibu. Sesungguhnya wanita itu seharusnya menjadi penghuni rumah utama. Kehidupan berumah tangga dan berkeluarga secara mulia di atas segalanya. Sesungguhnya kebahagiaan wanita yang hakiki adalah dalam kehidupan rumah tangga yang mulia dan suci, bahkan kehidupan berumah tangga adalah simbol kebahagiaan wanita dan manusiawi…” (Marilyn Monroe)

***

Demikian isi sepucuk surat yang ditulis aktris populer Hollywood, Marilyn Monroe sesaat sebelum dia memutuskan diri untuk bunuh diri. Dalam secarik surat yang ditulisnya, dia mengungkapkan penyesalan dengan kehidupan yang telah dia jalani. Penyesalan seorang wanita yang menurutnya tidak bisa menjalani kehidupan sesuai dengan fitrahnya.

Waktu yang semestinya juga difokuskan untuk membina rumah tangga, memiliki keluarga yang berdaulat akhirnya harus terampas oleh kesibukan di luar rumah yang nyaris tanpa kontrol dan skala prioritas. Marilyn Monroe pun menangis. Meratapi harkat martabatnya yang tidak seutuhnya bernilai guna dalam bangunan rumah tangga.

Penyesalan Marilyn Monroe tentu tak sendirian. Masih banyak sosok-sosok wanita lain seperti dia yang memiliki kisah yang sama. Mereka terlalu asyik dengan ‘dunia’ yang semestinya tidak melalaikan kewajiban atau kodratinya sebagai seorang wanita. Berkarya dan mengabdi untuk berkontribusi membangun sendi-sendi rumah tangga bersama pasangan. Menjadi sosok wanita yang ideal untuk disebut sebagai istri sekaligus ibu bagi anak-anaknya.

Telah banyak kasus kehidupan rumah tangga yang lahir dari ketimpangan sikap mereka yang lebih menikmati kehidupan di luar. Penyelewengan, perselingkuhan suami istri adalah masalah dominan yang acapkali dekat dengan kehidupan mereka. Keberadaan mereka rentan dengan penyimpangan sosial dan moral. Catatan-catatan di banyak media telah menyebutkan banyak kasus kehancuran mahligai rumah tangga bersumber dari salah satu pasangan yang terlalu fokus dengan kehidupan dunia luar.

Dalam secarik surat tersebut, Monroe berharap menjadi seorang ibu yang baik. Bahkan, tegas dia mengatakan bahwa kebahagiaan hakiki seorang wanita adalah ketika dia menjadi ibu, yang memiliki andil total dalam kehidupan rumah tangga dan keluarganya. Mengabdi dan taat terhadap suami, memiliki anak, mendidik dan membesarkannya sehingga menjadi generasi yang taat kepada orang tua sekaligus bernilai guna bagi masyarakat.

Monroe menyadari sepenuhnya bahwa kebahagiaan hakiki dan kemuliaan hidup bukanlah bermuara pada gemerlapnya harta, tingginya kedudukan, dan lain-lain. Dalam bahasa lain, Monroe mengajak kita –khususnya bagi para wanita– bahwa salah satu kebenaran yang selama ini diajarkan Islam ialah menempatkan wanita, terutama ibu, dalam posisi yang sangat mulia.

Dalam Alquran, Allah SWT telah memberi keterangan yang jelas seperti yang telah termaktub dalam Surat Al Ahzab ayat 33 yang artinya: “Tetaplah kalian tinggal di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah bertabarruj (berpenampilan) sebagaimana penampilannya orang-orang jahiliyah yang pertama. Tegakkanlah shalat, tunaikan zakat, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah hanyalah berkehendak untuk menghilangkan dosa-dosa kalian wahai ahlul bait dan mensucikan kalian dengan sebersih-bersihnya.”

Ayat ini secara gamblang memberi gambaran bahwa betapa posisi wanita sebagai sang istri atau ibu rumah tangga memiliki arti yang sangat urgen. Bahkan, dia merupakan salah satu tiang penegak kehidupan keluarga serta termasuk pemeran utama dalam mencetak “tokoh-tokoh besar”.

Terkait perkara ini, Ayatullah Uzma Sayid Ali Khamenei mengatakan bahwa masalah keibuan, status sebagai istri, rumah dan rumah tangga, semuanya merupakan hal amat fundamental dan vital. Bukanlah wanita yang sempurna jika para wanita tidak menangani urusan di dalam rumah. Rasa kasih sayang dalam rumah tangga memerlukan satu poros utama, dan itu ialah wanita yang menjadi ibu rumah tangga. Tanpa kehadiran ibu rumah tangga, maka rumah tangga akan kering tanpa makna.

Martabat keluarga akan semakin lengkap manakala seorang ibu rumah tangga mampu mewujudkan tiga struktur rumah tangga, seperti yang diungkapkan Al-Ghazali, yaitu sakinah, mawaddah dan rahmah. Sakinah, bagaimana seorang ibu rumah tangga merasa puas dan bangga dengan pasangannya, pun sebaliknya. Mawaddah, ketika ibu rumah tangga selalu ‘ada’ dalam suka dan duka bersama keluarga. Dan rahmah, ketika aktivitasnya seorang ibu rumah tangga senantiasa mendasarkan akhlak yang mulia. Semoga kita, para wanita, ibu, bukanlah sosok yang memiliki penyesalan yang sama seperti yang dirasakan oleh Marilyn Monroe. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top