Mencapai Kebarakahan Hidup

Tahun 2006 silam, kita dikagetkan dengan perceraian Tommy Soeharto (Hutomo Mandala Putra) dengan R.A. Ardhia Pramesti Regita Cahyani (Tata). Tata, didampingi pengacaranya, Juniver Girsang menggugat cerai Tommy di Pengadilan Agama Jakarta Selatan (PA Jaksel). Mengherankan, karena Tommy selain gagah, dia adalah anak muda yang kaya raya. Sementara itu, Tata, juga seorang wanita berkelas yang cantik, seolah tanpa celah.

Usai kasus Tommy, masyarakat juga dikejutkan dengan peceraian kakaknya, Bambang Trihatmodjo dengan Halimah Agustina. Bambang lebih memilih artis Mayang Sari. Padahal dibanding umumnya wanita, Halimah adalah wanita yang cantik.

Selain kasus tersebut, tentu masih banyak lagi kasus sejenis yang terjadi yang tak terungkap oleh media. Ujungnya, kasus-kasus tersebut meninggalkan banyak pertanyaan di benak kita. Mengapa kekayaan yang berlimpah tidak selalu mendatangkan kebahagiaan? Mengapa rumah yang megah tidak bisa menghadirkan baiti jannati (rumahku adalah surgaku)? Mengapa kedudukan yang tinggi tidak menjadi jaminan sebagai sumber kemuliaan dan kehormatan? Mengapa pasangan hidup yang cantik atau tampan tidak menambah kebaikan dan penyebab terwujudnya keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah? Mengapa ilmu yang tinggi tidak dapat mengangkat derajat pemiliknya, tetapi justru menghinakannya? Mengapa anak-anak tidak bisa menjadi hiasan kehidupan (zinatul hayah) dan penyedap pandangan (qurrata a’yun)?

Fenomena inilah yang menjadi kekhawatiran kita. Jangan-jangan, uang, rumah, istri/suami, harta, kedudukan, menjauhkan kita dari ketaatan kepada Allah SWT, sehingga tidak barakah. Jauh dari kebaikan-kebaikan. Justru, semuanya menjadi batu sandungan, duri, penghalang, dalam mendekatkan diri kepada-Nya.

Rasulullah SAW selalu memohon kepada Allah SWT untuk para sahabatnya, agar ketika mereka menikah semoga memperoleh barakah (barakallahu laka wa baaraka ‘alaika wa jama’a bainakumaa fii khair). Kepada sahabatnya yang kaya, semoga kekayaannya barakah. Kepada sahabat yang memiliki kelebihan ilmu, semoga menjadi ilmu yang bermanfaat (barakah). Nabi SAW selalu meminta perlindungan kepada-Nya dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu’, nafsu yang tidak pernah kenyang, doa yang tidak terkabul.

Demikianlah, barakah itu maknanya adalah ziyadatul khair (tambahan kebaikan), sesuatu yang multiguna, bertambah kualitas dan kuantitasnya, bertambah kegunaannya, bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, kita tidak boleh hanya senang memiliki sesuatu. Padahal hakikatnya bukan hak milik, tetapi hak pakai. Kita tidak perlu bangga dengan apa saja yang kita miliki, jika ternyata tidak mendatangkan barakah. Jadi, bukan takut tidak memiliki sesuatu, tetapi yang lebih kita takuti adalah sesuatu yang sudah menjadi hak milik kita tidak barakah.

Betapa banyak kita temukan dalam realitas kehidupan, bahkan kita merasakan sendiri, orang menjadi sengsara dengan segala thethek bengek, perabot yang dimilikinya. Kita patut mencurigai, jangan-jangan sesuatu yang sah menjadi milik kita secara formal, dalam mengusahakannya terkontaminasi oleh prosedur yang tidak barakah. Karena, kita merasa ada yang kurang, di tengah keberlimpahan.

Maka, untuk melipatgandakan karunia yang telah diberikan oleh-Nya, kita harus mewaspadai kehidupan individu, keluarga yang tidak barakah. Yang tidak mendatangkan kebahagiaan hidup di sini dan hari esok. Mulailah berhati-hati dengan uang, prestasi, ilmu yang kita peroleh. Usahakan supaya yang menjadi milik kita menjadi multiguna (barakah). Jangan seperti orang kafir, tidak selektif dalam berusaha dan tidak hati-hati dalam memasukkan sesuatu di dalam mulutnya.

“Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang haus dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun.” (QS. An-Nur: 39).

Kehidupan yang tidak barakah adalah kehidupan yang dilaknat oleh-Nya. Dijauhkan dari kebaikan. Sehingga apa yang menjadi milik kita tidak menjadi pendukung untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Kepemilikan kita tidak bisa menjadi sahabat, tetapi menjadi musuh bagi. Makin banyak harta, tinggi ilmu, mapan kedudukan, secara pelan dan pasti membuat lubang kehancuran kita sendiri (istidraj). “Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit (serba sulit), dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” [Q.S. Thaha: 124]. (Sumber: hidayatullah.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top