PERAN BAITUL MAAL DALAM MEMERDEKAKAN KAUM DHUAFA

Oleh :Jamil Abbas **

Sudah 72 tahun Indonesia merdeka, namun masih ada jutaan rakyat Indonesia yang belum merdeka dari jeratan kemiskinan. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), ada lebih dari 27 juta penduduk Indonesia yang masih hidup di bawah garis kemiskinan. Data dari beberapa pihak lain juga menyebutkan angka yang kurang lebih sama atau bahkan lebih buruk. Data ini menunjukkan bahwa kemiskinan masih merupakan masalah yang sangat serius di Indonesia sehingga, di saat Pemerintah sedang berusaha keras untuk mengatasi masalah ini, gerakan yang dilaksanakan secara mandiri oleh masyarakat untuk membantu pengentasan kemiskinan di Indonesia sangatlah diharapkan.

Salah satu ikhtiar pengentasan kemiskinan yang dilaksanakan secara mandiri oleh masyarakat Indonesia diwujudkan dalam bentuk BMT. BMT, yang merupakan singkatan dari Baitul Maal wat Tamwil, adalah bentuk gotong royong masyarakat untuk mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan bersama di wilayahnya.

Lembaga ini berusaha meningkatkan produktivitas dan kekuatan ekonomi masyarakat melalui berbagai program pemberdayaan ekonomi, terutama dengan menyediakan fasilitas pelayanan keuangan secara syariah bagi segment UMKM. Sepintas BMT adalah sebuah lembaga keuangan mikro (LKM) namun sesungguhnya BMT lebih dari sekedar LKM semata, apalagi jika dibandingkan dengan LKM yang berorientasi murni komersial.

Dari namanya, Baitul Maal wat Tamwil, BMT merupakan perpaduan dari Baitul Maal dan Baitul Tamwil. Baitul Maal fokus pada pemberdayaan ekonomi bagi kaum miskin yang umumnya masih masuk kategori mustahik, dengan menggunakan pendekatan dan dana sosial.

Sementara Baitul Tamwil fokus pada peningkatan usaha masyarakat dengan menggunakan pendekatan dan dana semi-komersial.  Perpaduan penuh sinergi ini menjadikan BMT sebentuk lembaga keuangan mikro syariah yang mampu melayani dan membantu berbagai lapisan masyarakat sampai yang termiskin sekalipun. Tulisan singkat kali ini berusaha menjelaskan bagaimana Baitul Maal di BMT membantu kaum dhuafa untuk merdeka dari jeratan kemiskinan.

Sepintas Baitul Maal tampak mirip dengan Lembaga Amil Zakat (LAZ) karena berusaha membantu kaum dhuafa dengan menggunakan pendekatan sosial dan dana ZISWAF (Zakat, Infaq, Shadaqah dan Wakaf). Namun, yang membedakan adalah Baitul Maal sangat memprioritaskan program pemberdayaan ekonomi. Baitul Maal berusaha membantu kaum dhuafa di wilayah kerjanya supaya mereka menjadi produktif, mandiri, dan mampu memiliki penghasilan yang memadai secara berkesinambungan (sustainable). Secara umum ada 3 metode pemberdayaan ekonomi yang dilaksanakan oleh Baitul Maal yaitu:

Yang pertama adalah memberikan modal bagi kaum dhuafa untuk memulai usaha atau mengembangkan usaha mikro yang sudah mereka rintis. Dengan modal yang diberikan ini, sang dhuafa bisa memulai atau membesarkan usaha sesuai dengan pilihan mereka. Diharapkan usaha tersebut akan membukukan keuntungan yang mampu menjadi nafkah atau penghasilan yang memadai bagi para dhuafa beserta keluarganya. Pemberian modal kerja ini dapat berupa hibah ataupun dana bergulir (qardhul hasan), disesuaikan dengan sumber dan ketersediaan dana.

Seringkali, karena keterbatasan dana, bantuan yang diberikan relatif sangat minim. Namun, yang terpenting dari semua ini adalah memberikan kesempatan bagi sang dhuafa untuk berusaha dan berkarya supaya bisa mandiri.

Yang kedua adalah memberikan usaha bagi kaum dhuafa. Metode kedua ini muncul karena seringkali kaum dhuafa yang diberikan modal tunai (metode pertama) mengalami kebingungan untuk memulai suatu usaha. Keterbatasan pendidikan dan pengalaman membuat mereka mengalami kesulitan dalam memilih dan merintis usahanya.

Untuk kasus seperti ini, Baitul Maal menghadirkan metode yang kedua ini yaitu, daripada memberikan modal berupa uang tunai, Baitul Maal memberikan paket usaha atau bisnis bagi para dhuafa. Baitul Maal merancang dan menyiapkan usaha tersebut, serta memberikan pelatihan yang diperlukan, sehingga para dhuafa bersangkutan hanya menjalankan usaha tersebut sesuai petunjuk. Tingkat keberhasilan dari pendekatan ini cukup tinggi.

Sebagai contoh, sebuah BMT di Yogyakarta memberikan paket usaha berupa seperangkat warung angkringan khas Jogja lengkap dengan pelatihannya kepada kaum dhuafa yang mereka bantu. Apabila sang dhuafa menjalankan usaha tersebut dengan kerja keras, komitmen penuh, dan sesuai petunjuk yang diberikan, umumnya usaha angkringan mereka tersebut mampu memberikan penghasilan bulanan yang jauh melebihi UMR setempat secara berkesinambungan.

Saat ini sudah ada lebih dari 100 warung angkringan yang diberikan oleh Baitul Maal BMT tersebut yang beroperasi secara solid dan stabil di berbagai lokasi di Yogyakarta. Artinya sudah ada lebih dari 100 keluarga dhuafa yang berhasil merdeka dari jeratan kemiskinan, Alhamdulillah.

Yang ketiga adalah memberikan lapangan kerja bagi kaum dhuafa. Mencoba memberikan lapangan kerja adalah suatu metode yang juga harus ditempuh oleh Baitul Maal karena tidak semua kaum dhuafa cocok dan mampu menjadi pengusaha (memiliki dan menjalankan usaha sendiri). Sebagian orang, walaupun berpendidikan tinggi sekalipun, mungkin memang terlahir untuk menjadi pekerja. Untuk itu, bagi kaum dhuafa yang merasa atau dinilai tidak mampu/cocok untuk menjadi pengusaha, Baitul Maal akan membantu mereka untuk mendapatkan pekerjaan. Dalam hal ini, ikhtiar Baitul Maal bisa berupa membantu menempatkan sang dhuafa di usaha-usaha yang dimiliki oleh relasi-relasi BMT, termasuk di usaha-usaha yang dimiliki oleh anggota-anggota BMT. Bisa juga bantuan berupa membiayai pelatihan-pelatihan tertentu sehingga kaum dhuafa bisa diterima bekerja di perusahaan setempat.

Selain berupa bantuan penempatan kerja, Baitul Maal juga bisa melangkah lebih jauh yaitu dengan menciptakan lapangan kerja. Baitul Maal bisa mendirikan usaha-usaha yang mampu merekrut atau mempekerjakan banyak insan-insan dhuafa.

Banyak contoh keberhasilan Baitul Maal dalam hal ini. Sebuah Baitul Maal BMT di Pati mendirikan sebuah usaha cleaning service yang semua karyawannya adalah kaum dhuafa setempat. Dalam waktu singkat usaha tersebut berhasil mempekerjakan lebih dari 20 orang dhuafa yang semuanya berpenghasilan di atas UMR setempat. Artinya ada 20 keluarga yang berhasil diangkat dari garis kemiskinan melalui usaha yang didirikan oleh Baitul Maal BMT tersebut.

Sebagai contoh lain, sebuah Baitul Maal BMT di Cianjur mendirikan sebuah usaha budidaya jamur untuk menciptakan lapangan kerja bagi sekelompok Ibu-Ibu di desa tersebut supaya mereka tidak perlu kembali meninggalkan keluarganya selama bertahun-tahun dengan menjadi TKW di Timur Tengah dengan segala resiko kerja terkait. Alhamdulillah, dengan bekerja di usaha tersebut, Ibu-Ibu itu kini bisa berbahagia bersama keluarganya di desa tercinta dengan nafkah yang cukup.

Singkatnya, Baitul Maal di BMT merupakan sebuah wadah yang luar biasa, yang mampu melahirkan berbagai solusi pemberdayaan ekonomi untuk memerdekakan kaum dhuafa dari jeratan kemiskinan. Namun Baitul Maal tersebut tidak mampu berbuat apa-apa tanpa dukungan masyarakat di sekitarnya.

Bagaimanapun Baitul Maal hanyalah intermediari atau media untuk menyalurkan bantuan dari masyarakat yang mampu kepada yang kurang mampu. Tanpa ada dukungan dari kaum mampu, Baitul Maal tak akan sanggup mengoptimalkan potensinya untuk memerdekakan kaum dhuafa dari kemiskinan. Dengan merujuk pada metode-metode dan contoh-contoh diatas, bantuan bisa berupa banyak hal, dari bantuan dana, memberikan peluang kerja bagi dhuafa di perusahaan kita, menciptakan bisnis yang bisa dikelola oleh dhuafa, sampai berkolaborasi bisnis yang berorientasi sosial. Mari kita dukung Baitul Maal kita untuk memerdekakan kaum dhuafa dari kemiskinan. Dirgahayu Indonesia-ku. Sekali merdeka, tetap merdeka !!!

**) Penulis adalah General Manager di PBMT Social Ventures, perwakilan internasional Perhimpunan BMT Indonesia (PBMT) di Singapura.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top