J E N U H

Kata orang dalamnya laut dapat kita selami, tapi hati orang siapa yang tahu?

Pagi belum beranjak jauh, ketika tiba-tiba sebuah SMS menyapaku. SMS dari seorang sahabat. Penasaran aku segera membuka dan membacanya. Isinya :

Ni, aku lagi BT, nih!, aku mau tanya, kira-kira dosa ngga kalau aku merasa jenuh dengan pasanganku sendiri, rasanya pengen break dulu…..”

Gubraaakkkk!

SMS ini memang membuatku nyaris menghentikan semua kegiatan rutinku di pagi hari. Sambil menduga-duga permasalahan apa yang tengah dihadapi sahabatku ini. Tumben-tumbenan lagi pagi-pagi begini sudah SMS hanya untuk menyampaikan ke-BT-annya itu.

Aku jadi teringat sosok sahabatku ini. Kalau dilihat dari luar sih, sepertinya mereka adalah pasangan ideal. Sebuah keluarga kecil yang berbahagia. Mereka sama-sama bekerja sebagai pegawai negeri, sudah punya rumah sendiri, kendaraan sendiri, dan tentu saja tiga bidadari kecil yang lucu dan imut-imut. Lantas, apa yang membuat dia merasa BT dan jenuh ya?

*****

Rutinitas yang melelahkan

Tumpukan setrikaan sudah menggunung setinggi gunung Gede. Dapur berantakan, dihiasi piring dan gelas kotor dimana-mana, seperti sudah diterjang tsunami. Di ruang keluarga (hanya satu-satunya ruang tempat kami berkumpul untuk nonton TV, ngobrol sekaligus makan bersama), buku-buku si sulung dan mainan si kecil berserakan, (rupanya tsunami tidak hanya terjadi di dapur tapi juga sudah merambah ke ruang dalam rupanya!). Bagaimana dengan kamar tidur?, syukurlah, masih ada satu tempat yang masih enak untuk dipandang dan ditempati, ya, tidak hancur-hancur banget deh!. Bantal-bantal masih tersusun rapi, begitupun dengan selimut yang teronggok manis ditempat biasanya.

Aaah, jadi hiperbola banget, ya!. Tapi mungkin itulah kurang lebih gambaran suasana dalam rumahku. Profil kehidupan rumah tangga yang dialami oleh keluarga menengah, seperti keluarga kami. Tidak ada khadimat yang membantu urusan domestik ini. Jadi, mau tidak mau, sang istrilah yang harus terjun langsung membereskan urusan tetek bengek, mulai dari bangun tidur menyiapkan sarapan, mencuci piring, mencuci baju, menyetrika, mengurus anak, mengurus suami dan lain sebagainya.

Jujur saja, mengerjakan pekerjaan rumah itu terkadang sangat melelahkan. Kalau tidak diimbangi dengan kegiatan diluar rumah, mengerjakan pekerjaan rumah ini lama-lama bisa menjadi kegiatan yang membosankan, dan kadang membuatku agak sedikit tertekan. Apalagi kalau pas PMS datang. Wah, seisi rumah bisa kena sasaran nih!. Ditambah lagi bila tidak ada kepedulian dari pasangan dalam urusan domestik, jadi lengkaplah sudah penderitaan ini.

Tunggu…tunggu!, membosankan?

Aku jadi teringat pada sebuah SMS dari seorang sahabat yang dikirimkan beberapa hari yang lalu. Bukankah dia juga sedang merasa jenuh, bosan dan BT?. Padahal, sehari-hari dia punya aktifitas diluar rumah dan tidak pernah dipusingkan dengan urusan domestik rumah tangga. Parahnya, dia merasa Jenuh dan bosan justru terhadap pasangannya, alias suaminya?. Bukan jenuh dengan rutinitas pekerjaan rumah tangga yang sering aku alami.

Mmhmm, ada apa ini?

*****

Allah sedang menguji kita

Pernikahan seharusnya tidak hanya dilandasi oleh cinta. Tapi seharusnya juga saling mengisi, saling mewarnai, saling memahami, saling menjaga, saling memberi, saling melengkapi, dst, itu gambaran idealnya.

Cinta biasanya hanya indah diawal saja. Dan ketika cinta tak lagi bisa memberi kekuatan pada kedua belah pihak, kekecewaan dan kejenuhanlah yang akhirnya muncul. Keadaan ini akan semakin parah bila komunikasi yang tidak berjalan dengan baik. Dan akhirnya hubungan pun berjalan dengan tidak sehat dan tidak nyaman.

Kok bisa begitu?

Ya, bisa saja. Memang tidak semua hubungan berjalan dengan kondisi seperti itu. Tapi, aku pernah berada dalam kondisi seperti itu. Bukanlah hal yang mudah untuk bisa menerima dan memahami seseorang yang datang dan masuk dalam kehidupan kita. Apalagi dengan latarbelakang keluarga yang berbeda, plus ditambah dengan minat dan pola pikir yang berbeda. Memang ada cinta disana. Tapi, aku hanya manusia biasa. Butuh waktu dan proses yang tidak sebentar untuk bisa menerima perbedaan yang nyata itu dengan lapang dada. Bahkan, aku baru menyadarinya saat perkawinan kami menginjak tahun ke-10.

Aku baru menyadari, bahwa anak, harta dan suami adalah ujian. Aku mencoba menerima perbedaan dan ketidaknyamanan ini sebagai sebuah ujian dalam perjalanan kehidupan berumahtanggaku. Aku coba untuk meyakinkan diriku sendiri, bahwa disana ada ladang pahala yang amat banyak. Bila aku ingin meraihnya, maka aku harus bersabar dengan ujian yang Allah berikan. Ujian yang berwujud seorang suami dengan segala macam kekurangan, kelemahan dan juga kelebihannya.

Aku jadi kembali teringat dengan SMS sahabatku. Jenuh. Mungkin saat ini dia sedang berada dalam situasi dan kondisi yang pernah aku alami. Saat hubungan terasa hambar. Saat kebersamaan tak lagi memberi warna. Saat tegur sapa hanya menjadi sebuah ritual yang tak bernyawa. Saat wajah manis dan lucu anak-anak tak lagi memberi spirit.

Semoga aku keliru. Mungkin sahabatku ini sedang merasa jenuh karena hal lain, bukan karena situasi dan kondisi yang pernah aku alami. Aku selalu berdoa untuknya, semoga dia bisa segera melalui masa-masa yang tidak menyenangkan ini dengan baik-baik saja.

*****

Bersyukurlah

Kalau ditanya dosa atau tidak bila kita memiliki perasaan jenuh dengan pasangan kita, aku tidak tahu pasti. Bagiku, perasaan jenuh adalah sesuatu yang wajar dan normal. Dan aku yakin, semua pasangan suami istri di belahan dunia manapun pasti pernah mengalami masa-masa kejenuhan dalam rumah tangganya.

Yang jadi masalah mungkin bila kemudian rasa jenuh itu dibiarkan berlarut-larut, dan kemudian menguasai hati dan pikiran kita tanpa dicari jalan keluar dan penyelesainnya. Dan mungkin saja akan berakibat tidak baik yang akhirnya akan menimbulkan ketidaknyamanan dan ketidak harmonisan dalam hubungan keluarga.

Sahabat, aku bukanlah seorang pakar perkawinan juga bukan seorang psikolog perkawinan yang bisa memberikan pendapat atau kiat-kiat yang jitu, agar kamu bisa bebas dari rasa jenuh itu. Sampai saat ini pun, aku masih belajar dan terus belajar agar aku bisa terbebas dari serangan kejenuhan. Aku masih dalam proses untuk dapat menjalani perkawinan ini dengan baik dan menyenangkan untuk kedua belah pihak.

Banyak beryukur, mungkin itu adalah kata-kata klise yang sudah sering kita dengar. Tapi faktanya, memangkata itulah yang tepat untuk menenangkan hati kita yang gelisah. Bersyukur atas apapun yang Allah anugrahkan pada kita.

Dalam tulisannya, masrukhul Amri berkata, Bersyukurlah, karena Allah telah menitipkan kepada kita seorang suami. Banyak orang yang ingin bersuami namun belum menemukannya. Suami dengan segala keangkuhannya, kekurangan dan kelemahannya, menyebabkan hamba-Mu ini mampu belajar untuk bersabar….

Alhamdulllah ya Allah, Engkau masih memberi kami ujian dan cobaan, itu artinya Engkau menyayangi kami, sehingga kami sudah sepantasnya untuk terus lebih banyak bersyukur dan bersyukur

Don’t Worry sahabat, bila kita merasa jenuh dengan situasi dan kondisi kita saat ini, itu berarti kita masih diberi kesempatan untuk terus belajar untuk memahami diri kita sendiri dan orang lain. Nikmati dan syukuri semuanya pasti kita akan Be Happy.

Semoga..

Catatan hati di tengah malam

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top