UTANG, PERILAKU DAN AJARAN ISLAM

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia utang diartikan sebagai uang yang dipinjamkan dari orang lain dan adanya kewajiban membayar kembali apa yang sudah diterima. Sedangkan dalam terminologi fiqih muamalah, utang piutang disebut dengan “dain”. Istilah “dain”  ini juga sangat terkait dengan “qardh” yang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan pinjaman. Tetapi orang biasa membahasakan dengan kata utang. Utang selalu dihubungkan dengan rentenir, kredit, cicilan dan bank yang hampir semua bernuansa negatif.

Beda dulu beda sekarang, dalam kehidupan masyarakat kita dahulu utang dianggap tabu dan bahkan utang dianggap sebagai aib. Kehidupan semakin  berkembang, perilaku masyarakat pun banyak berubah. Kini, perilaku berutang telah banyak menjadi pilihan individu dalam menyelesaikan masalah maupun pemenuhan kebutuhannya.

Perilaku berutang tidak hanya dimiliki oleh kalangan menengah ke bawah untuk memenuhi kebutuhan pokok, tetapi juga dimiliki oleh kalangan menengah ke atas. Dalam kehidupan modern saat ini orang memandang utang bukan lagi sesuatu yang berkonotasi aib,  bahkan bagi sebagian orang, utang adalah kepercayaan, cara untuk mengatur pola keuangan keluarga dan masa depan.

Perubahan perilaku masyarakat itu sendiri bukanlah perubahan yang terjadi begitu saja, tetapi ada banyak faktor yang mempengaruhi , baik faktor pergeseran perilaku , media massa, maupun lembaga yang mempromosikan dan menawarkan utang.

Pergeseran Perilaku dan Gaya  Hidup

Keputusan untuk berutang berbeda tiap individu tergantung pada ciri personal dan faktor keadaan.Pada pekerja misalnya, dengan penghasilan tetap memiliki kemudahan dalam melakukan perencanaan keuangan dengan perkiraan defisit, surplus atau impas. Dengan gaji yang mereka terima, diharapkan orang bisa memenuhi kebutuhan dasarnya, yakni pangan, sandang, papan, kesehatan, dan pendidikan. Namun, harapan tersebut sulit diwujudkan, karena orang merasa gajinya relatif terbatas dan  kurang. Kondisi seperti ini menimbulkan masalah sosial dan ekonomi yang rumit, karena orang sulit mewujudkan harapannya dalam konteks pemenuhan kebutuhan dasar manusia modern yang sudah banyak berubah.

Dari pemenuhan perkembangan kebutuhan dasarnya, kecenderungan orang sering berdalih bahwa mencicil adalah sama dengan menabung. Bahkan, lebih menguntungkan daripada menabung, karena hasilnya bisa dinikmati lebih awal, yakni dalam bentuk barang yang dicicil. Begitu pula dengan mencicil, seseorang harus menyisihkan pendapatannya agar bisa melunasi kreditnya baik yang dibayarkan maupun yang menjadi potongan gaji bulanan. Akibatnya, mereka terpaksa berhemat atau membatasi pengeluaran pada sektor lainnya agar cicilan bisa dilunasi, ini juga sangat berpengaruh kenapa gaji tidak cukup dalam pemenuhan kebutuhan. Dan pilihan pengaturan financial inilah yang menjadi lingkaran setan yang ujungnya adalah pendapatan terbatas dan tidak cukup pada setiap waktunya.

Perilaku manusia yang sudah menjadi “ HomoEconomicus”  adalah pangkal dari pergeseran perilaku yang memandang segala hal dari sudut pandang ekonomi dan materi. Hal ini yang menyebabkan masyarakat sekarang memandang bahwa kebahagiaan sesungguhnya adalah terpenuhinya kebutuhan materi yang diinginkan dengan cara apapun termasuk berutang. Kebutuhan dasar sekarang tidak hanya sandang, pangan dan pendidikan. Akan tetapi  kepemilikan mereka kepada rumah pribadi, mobil, motor terbaru dan barang konsumtif lain. Dan gaya hidup sekarang dalam pemenuhan kebutuhannya dengan cara berenang-renang dahulu dan berakit-rakit kemudian, bersenang-senang dahulu, bersakit-sakit kemudian, berutang dahulu, mencicil kemudian.

Iklan dan Media Massa

Jika menonton televisi, membaca koran, majalah dan tabloid relatif akan mudah menemukan iklan yang menawarkan untuk memiliki apa saja, tanpa harus mempunyai uang berlimpah. Mulai dari motor, mobil, rumah dan barang elektronik lengkap, hingga jasa tamasya dan seminar menampilkan tawaran gaya hidup tertentu untuk dipilih konsumen. Konsumen dapat memperoleh dengan mudah melalui cara membayar tunai, mencicil, dengan tukar tambah .

Pada zaman manusia Homo Economicus, orang tidak saja membiarkan dirinya dikuasai oleh materi,  tetapi manusia menempatkan pula dirinya sebagai consumer yang selalu terarah untuk mengkonsumsi semua yang dipromosikan. Kondisi ini tidak bisa dilepaskan dari dampak yang ditimbulkan oleh iklan yang ditayangkan pada media komunikasi kebudayaan, yakni TV, surat kabar, dan lain-lain.  “Iklan yang ditayangkan secara terus-menerus dapat menimbulkan efek psikologis dalam mempengaruhi kuantitas dan kualitas kebutuhan. Iklan bukan lagi media informasi tentang produk tertentu tetapi instrumen untuk menciptakan kebutuhan itu sendiri. Iklan terus menciptakan kebutuhan ataupun keinginan, sehingga mereka  merasa kekurangan akan barang secara kronis. Akibatnya, manusia mudah terhipnotis oleh iklan seperti tercermin pada tindakan mereka membeli produk yang ditawarkannya.

Apabila pendapatan mereka dari gaji dan usaha lainnya belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya akan suatu produk, maka lembaga utang formal bisa membantu semua orang untuk memenuhinya dengan cara utang.

Kemudahan Kredit

Apabila orang tidak memiliki uang yang mencukupi untuk membeli sesuatu barang, mereka bisa membeli barang secara kredit atau angsuran. Dalam konteks ini, iklan tidak saja menawarkan suatu produk, tetapi menyajikan pula tata cara pembelian barang melalui sistem kredit, Sistem kredit tidak saja  berlaku untuk pembelian kebutuhan dasar saja , tetapi pada barang-barang lainnya yang tergolong barang mewah. Begitu pula peralatan rumah tangga, pakaian, kain, dan lain-lain bisa dibeli secara kredit, lewat toko atau tukang kredit yang menjajakan barang dari rumah ke rumah, atau dari sekolah yang satu ke sekolah yang lainnya.

Sistem kredit barang memiliki kemanfaatan, yakni orang bisa mengkonsumsi/memiliki barang secara segera tanpa harus membayar penuh. Dengan uang muka yang kecil, bahkan bisa pula tanpa uang muka, barang yang mereka inginkan terpenuhi secara baik. Akibatnya, orang jarang menabung dengan tujuan agar bisa membeli barang secara tunai, karena dinilai tidak praktis. Bahkan perilaku ini juga sudah masuk ke dalam ranah perilaku pemenuhan kebutuhan peribadahan seperti dalam pemenuhan pembayaran mukena sampai kepada haji dan umrah.

Di sisi lain, dalam rangka melegitimasi dan pembenaran sistem cicilan,  orang sering berdalih bahwa mencicil adalah sama dengan menabung. Bahkan, lebih menguntungkan daripada menabung, karena hasilnya bisa dinikmati lebih awal, yakni dalam bentuk barang yang dicicil. Begitu pula dengan mencicil, seseorang terpaksa menyisihkan pendapatannya agar bisa melunasi kriditanya. Akibatnya, mereka terpaksa berhemat atau membatasi pengeluaran pada sektor lainnya agar cicilan bisa dilunasi secara tepat waktu yang sekaligus berarti mereka mendapatkan kepercayaan dari kreditor.

Gencarnya promosi di berbagai media oleh lembaga kredit yang menawarkan kepada  kita bisa membeli segera dengan potongan angsuran, bunga ringan dan lain sebagainya. Lembaga kredit yang menawari kita kemudahan meraih mimpi tanpa harus membanting tulang memeras keringat terlebih dahulu. Sistem cicilan yang ditawarkan memungkinkan bahwa  apapun yang diinginkan oleh manusia bisa dipenuhi dengan jalan pintas, mudah dan cepat walaupun pada kenyataannya melahirkan kegelisahan dan penderitaan pada akhirnya. Lembaga kredit seelalu menawarkan mimpi-mimpi indah kemudahan yang bersifat instan yang kemudian menjerat kemerdekaan asasi manusia setiap bulannya selama hidup sampai matinya.

Utang dan Ajaran Islam

Dalam Fiqih Islam utang piutang masuk dalam perbuatan muamalah. Dalam muamalah kaidah utamanya adalah semua boleh dilakukan asal tidak ada dalil yang melarangnya. Berarti hukum dasar utang adalah boleh. Berutang memang bukan sebuah perbuatan dosa. Namun, aktivitas utang piutang yang tak terkendali akan mengarahkan orang tersebut kepada perbuatan munkar. Berdusta dan ingkar janji akan menjadi sarapan sehari-hari bagi orang yang sudah terlilit utang. Walaupun ada riwayat bahwa Rasulullah SAW pernah berutang, namun bukan berarti beliau gemar berutang. Sebaliknya, Rasulullah mengajarkan kepada ummatnya untuk hidup sederhana dan berdoa untuk sangat menghindari  utang jika tidak dalam keadaan terpaksa.

Jika kita terpaksa berutang, kita pun harus selalu berpegang kepada ajaran Islam yang jelas mengaturnya baik secara hukum syariah maupun akhlaqnya. Secara hukum syariah utang tidak boleh mensyaratkan tambahan dengan dalih apapun baik bunga, jasa maupun administrasi. Hal itu disebabkan pada setiap utang/pinjaman yang ada tambahan adalah riba, sedangkan Islam melarang riba dan  mengkategorikannya sebagai dosa besar.  Adakah lembaga kredit yang menawarkan utang tanpa tambahan? Allahu a’lam bisshawwab

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top