Belajar  Cukup

 

Tulisan ini adalah sebuah refleksi dari keberjalanan hidup setiap insan. Kebahagiaan yang identik dengan terpenuhinya suatu kebutuhan, menjadi pokok alasan suatu perjuangan. Pekerjaan mudah dan cepat dengan hasil gemilang, rupiah menjadi standart sebuah kesukesesan. Tak jarang setiap langkah para pencari nafkah, menumpukan kakinya dijalan tempat ia mendapatkan pundi rupiah lebih banyak dan lebih banyak. Tak jarang pula pertarungan memperebutkan pundi rupiah itu membabibuta, seolah tak percaya bahwa rizki sudah ditetapkan Yang Kuasa. Ini adalah sebuah refleksi untuk setiap insan yang saat ini bergelut dikubangan rezki yang sama.

Tidak terhitung berapa jumlah pasti manusia di dunia. Seribu, sejuta atau bahkan miliaran manusia. Ribuan manusia, ribuan pemikiran. Jutaan manusia jutaan pemikiran. Miliaran manusia, miliaran pemikiran. Tapi semua manusia memiliki akhir cerita yang sama, “Kematian”.

Kali ini kita tidak berbicara tentang bagaimana menghadarpi kematian. Apalagi berbicara tentang seberapa besar rupiah itu diraih. Kita juga tidak berbicara tentang bagaimana keluar dari kubangan kemiskinan. Apalagi berbicara tentang menaikkan status, menikmati kekayaan. Namun, kita akan berbicara bagaimana mendapatkan setiap keping rupiah itu. Namun, kita akan berbicara bagaimana menikmati setiap lembar rupiah. Hingga kita mampu berdiri dengan gagahnya ditengah penghuni kubangan rizki yang saling berebut.

Jika menelisik lebih dalam, pertarungan mencari nafkah bukan menjadi hal asing dikehidupan. Pola pikir kebutuhan tidak terbatas sedangkan pemenuh kebutuhan itu terbatas, adalah dalang pertarungan mencari nafkah. Setiap orang berusaha untuk memperebutkan pemenuh kebutuhan (uang) untuk memenuhi hasrat kebutuhannya. Pola pikir ini selanjutnya melahirkan ketakutan akan tidak meraih rezki yang cukup memenuhi kebutuhan. Akibatnya, bayang-bayang kemiskinan begitu kuat menghantui, seolah menjadi momok terhinanya hidup.

Mari kita merenungkan hadist Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa salla berikut ini:

Dari ‘Amr bin ‘Aruf Al-Anshariry radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Abu ‘Ubaidah Ibnul Jarrah radhiyallahu ‘anhu ke Bahrain untuk mengambil jizyahdari penduduknya. Rasullullah sahallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerima permintaan damai dari penduduk Bahrain dan beliau mengangkat al-Ala’Bin al-Hadhrami untuk menjadi ‘amir (pemimpin) di sana.

Ketika Abu ‘Ubaidah datang dari Bahrain dengan membawa harta jizyah itu, para sahabat kaum Anshar mendengar kedatangan Abu Ubaidah ini. Maka merekapun berkumpul untuk menghadiri shalat shubuh bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika telah selesai shalat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung keluar. Namun mereka berusaha merintangi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika melihat mereka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersenyum kemudian berkata, “Saya mengira kalian telah mendengar kedatangan Abu Ubaidah membawa sesuatu dari Bahrain?”

Mereka berkata, “Benar wahai Rasulullah.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalau begitu bergembiralah dan berharaplah memperoleh sesuatu yang melapangkan diri kalian. Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan akan menimpa diri kalian. Akan tetapi, aku khawatir jika dunia ini dibentangkan untuk kalian sebagaimana ia bentangkan untuk orang-orang sebelum kalian, sehingga kalian berlomba sebagaimana mereka berlomba, dan akhirnya kalian hancur sebagaimana mereka hancur.” (Hadits riwayat Muslim: 2961 ; al-Bukhari: 6425 ; dan Ibnu Abi ad-Dunya dalam kitab tentang Zuhud hal.73).

Ihkwati fillah, dari hadits tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jelas mengatakan bahwa kemiskinan bukanlah suatu hal yang ia takutkan. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak takut kemiskinan menimpa umatnya, maka apa alasan kita sebagai umatnya takut akan kemiskinan? Bukankah Allah subhanahu wa ta’ala telah menjamin rezeki-Nya kepada kita?

Simak firman Allah subhanahu wa ta’ala berikut ini:

“dan tidak satu pun makhluk bergerak di bumi melaikan dijamin Allah rezekinya” (QS. Hud : 6).

Saudaraku, selain dari Allah subhanahu wa ta’ala maka, siapa lagi yang mampu mencukupkan setiap sumber rezeki yang ada di muka bumi ini?

Maka dari itu ikhwati fillah, berhusnudzon kepada Allah atas kecukupan nikmat dan rezeki-Nya kepada kita adalah hal yang terbaik bagi seorang hamba. Meyakini bahwa Allah azza wa jallan telah menetapkan rezeki-rezki kita, dan rezeki-rezki itu tidak akan mungkin biasa berpidah kelain tangan.

Kemudian yang menjadi pertanyaan, kenapa kita harus berebut rezeki?

Ini lah yang ditakutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Disaat umatnya berlomba-lomba mencari harta and menimbun harta, karena kerakusan, keserakahan, dan ketakutan akan kemiskinan. Hingga terperdaya oleh dunia, meninggalkan shalat, melupakan zakat, menghilangkan infaq, menistakan sedekah. Maka sebagai umat, kita tinggal menunggu kehancurannya.

Ikhwati fillah, maka kemiskinan bukanlah sesuatu yang harus ditakutkan. Jangan biarkan terbesit didalam pikiran, “Esok hari, mau makan apa?” Jangan khawatir ikhwah. Hal terpenting bagi kita adalah, berusaha mencari rezeki dengan cara yang halal, berdo’a dan bertawakal kepada Allah. Karena sungguh, Allah akan cukupkan.

Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, maka Allah akan menunjukkan kepadanya jalan keluar dari kesusahan, dan diberikan-Nya rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka, dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah mencukupkan keperluannya.”

 (QS. At-Talaq : 2-3).

bersambung…

Organized by :
Pendidikan dan Dakwah || Baitul Maal || KSPPS BMT TUMANG
➖➖➖➖➖➖➖➖➖
🌏 bmttumang.com
💌 baitulmaal@bmttumang.com
☎ (0276) 323034
📞 082340047678
👥 FB : baitulmaal.bmttumang@facebook.com
🎥 IG : @baitulmaalbmttumang
📽 Path : Baitul Maal BMT Tumang
🐤 Twitter : @bmttumang
📝 Telegram : @BMTTumang
🎬 YouTube: bmttumang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top