Vaksin Mengandung Gelatin Babi

Sebagaimana telah diketahui bahwa Gelatin Babi hukumnya adalah najis, lalu bagaimanakah hukum melakukan vaksinansi untuk kekebalan tubuh terhadap penyakit tertentu, seperti Vaksinansi Miningtis yang merupakan persyaratan untuk mendapatkan visa haji dan umrah?

Laporan dari berbagai sumber, memang dinyatakan bahwa vaksin meningitis mengandung gelanting babi,. Gelantin babi hukumnya najis dan haram hukumnya dimasukkan ke dalam tubuh. Maka hukum melakukan vaksin ini adalah haram.

Akan tetapi, hukum haram ini bisa berubah dalam kondisi tertentu, yaitu: bila tidak terdapat alternatif lain pengganti vaksin yang mengandung gelatin babi dan berat dugaan bahwa orang yang tidak mendapat vaksin ini akan terserang penyakit berbahaya yang berakibat kepada cacat permanen atau bahkan kematian. Maka kasus ini dapat digolongkan kedalam kondisi darurat. Allah berfirman,

Padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepadamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya.” (Al An’aam: 119).

Ini berarti, Allah menghalalkan bagi hamba-Nya sesuatu yang Dia haramkan dalam kondisi darurat.

Akan tetapi, jika terdapat alternative lain pengganti gelatin babi seperti gelatin sapi maka seyogyanyalah pihak yang berwenang di sebuah negara berpenduduk Islam untuk memberikan pelayanan yang paripurna terhadap rakyatnya.

Hukum Lemak Babi

Dinegara-negara minoritas Islam, lemak babi digunakan secara luas dalam produk pangan. Lemak babi yang diolah melalui proses kimia merupakan salah satu bahan campuran pembuatan margarin, juga digunakan utnuk campuran adonan roti, biscuit, coklat, dan es krim.

Padahal mereka sadar akan bahaya lemak babi terhadap kesehatan. Ditengarai bahwa lemak babi dapat menyebabkan berbagai jenis penyakit kanker: kanker usus besar, kanker prostat, kanker payudara, kanker pancreas, kanker leher Rahim, dan kanker empedu. Oleh Karen itu, berbagai pihak di negara-negara tersebut menuntut agar lemak babi tidak digunakan dalam produk makanan olahan. (Dr. Muhammad Al Baar, Khinzir mauthin sarathanat, hal 5).

Para ulama Islam telah sepakat bahwa seluruh bagian tubuh babi adalah najis termasuk lemaknya. (Al Mausuah al fiqhiyyah al Kuwaytiyyah,jilid XX, hal 34).

Maka hukum lemak babi adalah najis dan tidaj boleh diperjualbelikan, termasuk makanan yang telah dicampur lemak babi sebagai salah satu bahan bakunya, makanan tersebut menjadi najis yang haram utnuk dikonsumsi dan diperjual-belikan.

Adapun lemak babi yang dianggap telah terjadi perubahan wujud, maka hukumnya sama denganhukum gelatin babi, yaitu mayoritas para ulama Islam internasional tetap mengharamkannya.

Forum ulama fikih dan medis dalam sidangnya ke VIII di Kuwait menyatakan lemak babi dan makanan olahan yang dicampur lemak babi adalah haram, bunyi pernyataannya sebagai berikut:

Makanan olahan yang mengandung lemak babi (yang belum berubah wujud) sebagai salah satu bahan bakunya, seperti: beberapa jenis keju, beberapa jenis minyak goring, minyak samin, minyak mentega, dan beberapa jenis biscuit, cokelat, es krim hukumnya haram, dan tidak halal dimakan, berdasarkan kesepakatan para ulama bahwa lemak babi adalah najis dan tidak halal dimakan.” (Badriyyah Al Haritsi, An Nawazil fil Athimah,jilid II, hal 689).

 

Disadur dari:

Tramizi, Erwandi. 2016. Harta Haram Muamalat Kontemporer. Cetakan 12. Halaman 107-108. PT. Berkat Mulia Insani: Bogor.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top