Hukum Pemanfaatan Organ Babi

Para ulama sepakat bahwa organ babi yang mati termasuk kulitnya adalah najis dan tidak suci walaupun sudah disamak. (Al Mausah al Fiqhiyyah al Kuwaytiyyah, jilid XX, hal 34).

Bila seluruh organ babi adalah najis maka organ babi tersebut haram dimasukkan ke tubuh manusia, seperti: memasukkan insulin babi ke tubuh manusia, begitu juga haram memperjual-belikannya.

Akan tetapi, bila salah satu organ babi tersebut telah berubah wujud menjadi bentuk zat yang lain disesbabkan oleh proses kimiawi apakah hukumnya juga tetap haram?

Baik, kita akan mulai masuk pada pembahasan tentang Gelatin Babi. Gelatin merupakan protein yang diperoleh dari hidrolisis kolagen yang secara alami terdapat pada tulang atau kulit binatang, seperti: ikan, sapi, dan babi. Gelatin yang diperoleh dari babi merupakan gelatin yang paling luas dipakai dalam industry pangan dan obat-obatan, mengingat gelatin yang didapat dari hewan ini paling murah disbandingkan dengan hewan lainnya.

Dalam industri pangan gelatin dipakai sebagai salah satu bahan baku pembuatan permen lunak, es krim, jeli, susu formula, roti, daging olahan, soup dan minuman yang dicampur susu.

Dalam industry obat-obatan gelatin dipakai sebagai salah satu bahan baku pembuatan vaksin, kapsul, pil, krim, pasta gigi, sabun dan obat gosok.

Sebagian negara mewajibkan para produsen untuk mencantumkan kode komposisi bahanbaku dari barang olahan, kode gelatin yang berasal dari babi: 101, 101A, 120, 150, 153, 160A, 160B, 161A, 161C, 163, 200, 270, 304, 310-312, 326, 327, 334, 336, 337, 350, 353, 422, 430, 436, 162, 470, 478, 481, 483, 491, 495, 542, 572, 575, 631, 940A. (Badriyah Al Haritsy, An Nawazil fil Athi’mah, jilid I, hal 504.

Sebelum menjelaskan hukum gelatin dari babi, harus dijelaskan terlebih dahulu hukum istihalah (perubahan suatu wujud menjadi wujud lain), seperti: wujud babi berubah menjadi garam apakah garam tersebut hukumnya halal atau tidak?

Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat para ulama mazhab.

Pendapat pertama: Para ulama mazhab Hanafi dan Maliki berpendapat baha garam bila seekor babi jatuh kedalam tambak pembuatan garam lalu mati dan berubah menjadi garam, maka garam tersebut hukumnya halal, karena zat babi telah berubah menjadi garam dan garam hukumnya adalah halal. (Al Mausuah al Fiqhiyyah al Kuwaytiyyah, jilid X, hal 278).

Al Hashkafi (ulama mazhab Hanafi, wafat : 1088H) berkata, “Tidak termasuk najis abu bekas pembakaran najis, juga garam yang berasal dari bangkai keledai ataupun babi … karena wujudnya telah berubah. Ini yang difatwakan dalam mazhab” (Al Durr al Mukhtar, jilid I, hal 217).

Pendapat kedua: Para Ulama mazhab Syafi’i dan Hanbali berpendapat bahwa garam yang berasal dari perubahan wujud babi hukumnya tetap haram, karena zat babi adalah najis sekalipun najis tersebut berubah bentuk menjadi zat lainhukumnya tetap najis.

Ar Ramli (ulama mazhab Syafi’i, wafat 1004H) berkata, “Zat yang najis tidak berubah hukumnya secara mutlak … dengan cara wujud najis berubah menjadi lain, seperti; bangkai babi yang jatuh ke dalam tambak garam, kemudian berubah menjadi garam”. (Nihyatul Mythaj, jilid I, hal 247).

Ibnu Qudamah (ulama mazhab Hanbali, wafat: 620H) berkata: ”Pendapat yang terkuat dalam mazhab bahwa najis tidak menjadi suci dengan cara perubahan wujud, kecuali khamar berubah menjadi cuka dengan sendirinya, adapun selain itu tidak menjadi suci, seperti: najis yang dibakar sehingga menjadi abu, begitu juga bangkai babi yang jatuh ke dalam tambak garam sehingga berubah wujud menjadi garam” (Al Mughni, jilid I, hal 60).

Dari dua pendapat  ulama tentang hukum garam yang berasal dari babi dapat ditakhrij hukum gelatin yang berasal dari kulit dan tulang babi.

Para ulama yang bermazhab Syafi’i dan Hanbali tentu akan mengaharamkan gelantin yang diperoleh dari babi sekalipun zat gelantin tersebut berbeda bentuk fisik dan sifat kimianya dengan kolagen babi yang merupakan asal dari gelatin.

Adapun para ulama yang bermazhab Hanafi dan Maliki atau yang mendukung pendapat bahwa perubahan wujud dari suatu zat menjadi zat lain hukumnya juga akan berubah, mereka juga berbeda pendapat tentang kehalalan gelatin yang diperoleh dari babi.

Pendapat pertama: gelatin yang berasal dari babi hukumnya halal, pendapat ini merupakan hasil seminar Forum fikih dan medis di Kuwait pada tanggal 25-5-1995, dan didukung oleh Dr. Nazih Hamad, Dr. Muhammad Al Harawy dan Basim Al Qarafy. (Badriyyah Al Haritsi, An Nawazi fil Ath’imah, jilid I, hal 499. Basim Al Qarafi, An Nawazil Fith aharah, jilid I, hal 378).

Penganut pendapat ini beralasan bahwa gelantin adalah zat baru yang tidak ada persamaan fisik dan sifat kimianya dengan kolagen yang berasal dari babi, sekalipun gelatin berasal dari kolagen babi. Dan dalam kaedah fikih bahwa zat baru hukumnya berbeda dengan hukum zat asalnya, bilamana hukum kolagen adalah haram maka hukum gelatin adalah halal.

Bukti bahwa gelatin berbeda dengan kolagen adalah gelatin berwarna bening, mudah larut dan mudah membeku, dan tidak demikian halnya kolagen. Kemudian gelatin yang diperoleh dari ababi sama sekali tidak dapat dibedakan dengan gelatin dari hewan lainnya, berbeda dengan kolagen, sangat mudah dibedakan antara kolagen babi dan kolagen hewan lainnya. (Badriyyah Al Haritsi, An Nawazi fil Ath’imah, jilid I, hal 499. Basim Al Qarafi, An Nawazil Fith aharah, jilid I, hal 378).

Tanggapan: Argumen pendapat ini tidak kuat, karena ternyata gelatin yang berasal dari babi sangat mudah untuk diketahui melalui tes kimia sederhana, ini menunjukkan bahwa proses perubahan wujud yang terjadi tidaklah sempurna. (Badriyyah Al Haritsi, An Nawazil fil Ath’imah, jilid I, hal 500).

Pendapat Kedua: Gelatin yang berasal dari babi hukumnya haram dan najis, pendapat ini merupakan keputusan berbagai lembaga fikih internasional, di antaranya:

  1. Majma’ Al Fiqh Al Islamy (divisi fikih OKI) keputusan No. 23(11/3) tahun 1986 sebagai jawaban atas pertanyaan dari Al ma’had Al Alami lil Fikri Islami di Washington yang berbunyi,

 

Soal ke-XII: Di sini (Amerika) terdapat ragi dan gelatin diekstrak dari babi dalam persentase yang sangat kecil, apakah boleh menggunakan ragi dan gelatin tersebut?

 

Jawab : Seorang muslim tidak dibenarkan menggunakan ragi dan gelatin yang berasal dari babi, karena ragi dan gelatin (halal) yang diperoleh dari tumbuh-tumbuhan dan hewan yang disembelih sesuai syariat mencukupi kebutuhan mereka.” (Journal Fiqh Council, edisi III, vol 1409 H, hal 47).

 

  1. Keputusan Al Majma’ Al Islamy (divisi fikih Rabithah Alam Islami) yang berpusat di Mekkah, No: 3 daurah: ke-15, tahun 1998, yang berbunyi,

“Himpunan Fikih Islami yang bernaung dibawah Rabithah Alami Islami dalam rapat tahunan ke-15 setelah mendiskusikan dan mengkaji bahwa: “Gelatin adalah sebuah zat yang banyak digunakan untuk pembuatan makanan dan obat-oabtan, berasal dari kulit dan tulang hewan; maka diputuskan: Boleh menggunakan gelatin yang berasal dari suatu yang mubah, dari hewan yang disembelih dengan cara yagn sesuai dengan ajaran Islam. Dan tidak dibolehkan menggunakan gelatin yang diperoleh dari sesuatu yang haram, seperti: gelatin dari kulit dan tulang babi serta dari benda haram lainnya.

Himpunan, Fikih Islami menghimbau Negara-negara Islam untuk memproduksi gelatin halal” (Qararat almajma’ al fiqhiy al Islami, hal 316).

 

  1. Fatwa Dewan Ulama besar Kerajaan Arab Saudi, no fatwa 8039, yang berbunyi,

Gelatin yang diperoleh dari sesuatu yang haram seperti babi, hukumnya haram” (Journal Al buhuts, edisi XX, Vol 1407 H, hal 178).

Dan pendapat ini didukung oleh sebagian besar para ulama fikih kontemporer.

Para ulama ini beralasan bahwa gelatin bukanlah zat baru , merupakan perubahan wujud dari klagen, akan tetapi gelatin telah ada pada kolagen babi sebelum dipisahkan, ini menunjukkan bahwa proses yang terjadi hanyalah pemisahan dan sekedar pergantian nama dan bukan perubahan wujud secara mutlak.

Dari dua pendapat di atas, hendaklah seorang muslim bersikap memilih yang lebih baik untuk diri dan agamanya, yaitu menghindari segala produk yang menggunakan gelatin babi sebagai salah satu bahanbakunya, karena bagaimanapun juga, asal gelatin ini adalah babi dan babi telah diharamkan Allah di dalam Alquran. Adapun proses perubahan wujud menjadi zat lain masih diragukan maka hukumnya kembali kepada hukum asal babi yaitu haram, sesuai dengan kaidah hadis Nabi shallallahu’alaihi wa sallam,

 

“Tinggalkanlah hal yang meragukan kepada hal yang tidak meragukan”. (HR. Tirmizi dan Nasa’i. Tirmizi berkata, “Sanad hadis ini hasan shahih”).

 

Dengan demikian, menjual segala barang/produk yang salh satu bahan dasarnya adalah gelatin babi hukumnya haram, dan hasil keuntungannya merupakan harta haram, demikian juga diharamkan seorang dokter utnuk memberikan resep obat-obatan yang mengandung gelatin babi. Sekalipun keberadaan gelatin hanya sebagai bahan campuran, hukumnya juga tetap haram, berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam:

Apabila seekor tikus (mati) jatuh ke minyak samin, jika minyak samin itu beku maka buang bangkai tikus dan bagian minyak samin beku yang terkena (najisnya), dan jika minyak samin itu cair maka jangan engkau dekati! (HR. Abu Daud dan Nasa’i, derajat hadis ini hasan).

Hadis diatas menunjukkan bahwa haram mendekati minyak cair yang bercampur najis, dan menjual minyak yangbercampur najis berarti mendekatinya yang hukumnya jelas haram.

Begitu juga haram hukumnya menjual makanan olehan dan obat-obatan yang bercampur babi, karena tidak dapat dipisahkan lagi antara najis (babi) dan bahan baku lainnya yang halal.

 

Disadur dari:

Tramizi, Erwandi. 2016. Harta Haram Muamalat Kontemporer. Cetakan 12. Halaman 102-107. PT. Berkat Mulia Insani: Bogor.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top