Hukum Menjual Anjing Piaraan

Karena anjing adalah najis maka haram hukumnya dijadikan sebagai hewan piaraan. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa orang yang menjadikan anjing sebagai piaraan akan dikurangi pahalanya setiap hari sebanyak 1 Qirath (ukuran berat di amsa dahulu, dalam ukuran sekarang ± 0,18gr).

Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

“Barang siapa yang memelihara anjing, kecuali anjing untuk menjaga kebun, hewan ternak dan anjing  untuk berburu, niscaya dikurangi pahalanya setiap hari 1 qirath.” (HR. Muslim).

Dan karena anjing adalah najis maka hukum memperjual-belikannya adalah haram, hal ini disebabkan tidak terpenuhinya salah satu syarat sah jual beli, yaitu bahwa objek jual-beli haruslah benda suci. Dengan demikian uang hasil penjualan anjing termasuk harta haram.

Sesuai dengan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Abu Mas’ud Al Anshari,

“Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam melarang uang hasil penjualan anjing.” (HR. Bukhari).

 

Bagaimana Memelihara Anjimg untuk Berburu, Menjaga Kebunm dan Hewan Ternak?

Para ulama telah sepakat bahwa boleh memlihara anjing yang digunakan untuk berburu, menjaga kebun dan menjaga hewan ternak, jika memang dibutuhkan. (Dr. Sami Al Majid, Ahkam Ghair Ma’kul Laham, hal 180), berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam,

“Barang siapa yang memelihara anjing, kecuali anjing untuk menjaga kebun, hewan ternak dan anjing  untuk berburu, niscaya dikurangi pahalanya setiap hari 1 qirath.” (HR. Muslim).

Termasuk dalam hal ini dibolehkan memelihara anjing pelacak karena kebutuhan akan anjing pelacak dalam mengungkap beberapa kasus kejahatan, seperti: penyeludupan barang terlarang (Narkoba), mengungkap pelaku sebuah kejahatan criminal dan lain-lain, hingga saat ini masih dominan.

Bahkan kebutuhan akan anjing pelacak lebih utama, karena kebutuhan akan anjing penjaga hewan ternak hanya untuk menjaga keamanan dan harta pribadi, sedangkan kebutuhan anjing pelacak untuk menjaga keamanan dan harta orang banyak (Dr. Sami Al Majid, hal 187).

Disadur dari:

Tramizi, Erwandi. 2016. Harta Haram Muamalat Kontemporer. Cetakan 12. Halaman 99-100. PT. Berkat Mulia Insani: Bogor.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top