Kulit Hewan, Dagingnya Tidak Halal Dimakan

 

Hewan yang boleh dimakan bila mati tanpa disembelih, atau hewan yang tidak boleh dimakan dagingnya bila telah mati, apakah kulitnya juga menjadi suci dengan cara disamak?

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum kulit hewan-hewan ini bila disamak.

Pendapat yang terkuat –wallahu alam- bahwa seluruh kulit hewan bila disamak berubah hukumnya menjadi suci, kecuali kulit babi dan anjing, karena babi dan anjing baik hidup ataupun mati kulitnya tetap najis.

Berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas,

“Rasullallah shallallahu’alaihi wa sallam melewati bangkai kambing, lalu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, : Kenapa kalian tidak memanfaatkan kulitnya? Para sahabat menjawab, “Sesungguhnya itu adalah bangkai”. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Yang diharamkan adalah memakannya”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dan juga sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam,

“Seluruh kulit hewan bila disamak niscaya menjadi suci.” (HR. Nasa’i. Hadis ini dishahihkan oleh Al-Albani).

Hadis kedua ini sangat tegas bahwa seluruh kulit hewan suci dengan disamak, adapun pengecualian babi dan anjing, karena kulit kedua hewan ini najis sekalipun saat masih hidup apalagi setelah mati, maka proses pensamakan tidak berdampak apapun terhadap kenajisan kulitnya.

Adapun hadis-hadis yang diriwayatkan tentang larangan menggunakan kulit binatang buas di antaranya hadis:

“Rasullallah shallallahu’alaihi wa sallam melarang menggunakan kulit binatang buas”. (HR. Abu Daud dan Al Hakim, Hadis ini dishahihkan oleh Al Hakim dan disetujui oleh Az Zahabi).

Hadis diatas meriwayatkan tentang larangan menggunakan kulit binatang buas, bukan berarti karena kulitnya dihukumi najis, akan tetapi karena menyerupai orang-orang kafir dan dapat mendatangkan keangkuhan. (Dr. Shaleh Al Musallam, Tathir al Najasat, hal 70).

Dengan demikian apakah boleh menjual-belikan kulit binatang buas, seperti: kulit ular dan buaya yang telah disamak terlebih dahulu?

Para ulama mazhab Hanafi dan Maliki membolehkan menjualnya, dan uang hasil penjualannya halal.

Namun para ulama mazhab Syafi’i dan Hanbali mengharamkan jual-beli kulit hewan tersebut, bukan karena najis akan tetapi karena penggunaan kulit tersebut dilarang Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, dengan demikian tidak boleh dijual dan hasil penjualannya termasuk harta haram (Sulaiman Tsunayyan, Al Ahadist fil buyu’manhiyyin anha, jilid I, hal 44). Dan ini merupakan pendapat yang terkuat, karena pendapat ini menggabungkan dalil-dalil yang membolehkan dan melarang menggunakan kulit binatang buas. Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top