Mengelola Emosi

Setiap orang memiliki emosi. Hanya saja masing-masing memiliki kemampuan yang berbeda dalam mengelola emosi. Ketidakmampuan mengelola emosi akan memberi dampak negatif, bukan saja terhadap pikiran, namun juga fisik. Ciri-ciri yang mudah dikenali ketika seseorang kurang mampu mengelola emosinya ialah lemahnya kekuatan fisik. Daya tahan tubuh menjadi rentan terkena penyakit.

Sebaliknya, jika seseorang memiliki kemampuan pengelolaan emosi yang baik, maka dampak di fisik pun akan jauh lebih baik. Daya tubuh lebih kuat. Hanya saja, kebanyakan dari kita cenderung memiliki pengelolaan emosi yang kurang baik. Dalam bahasa lain, emosi negatif jauh lebih mendominasi dibanding emosi positif. Maka, bukan aneh bila banyak dari kita yang memiliki emosi negatif, akan mudah ‘terserang’ penyakit.

Pesan bagaimana agar kita belajar mengelola emosi inilah yang ditekankan Ustadz Bambang Nugroho dalam Pengajian Bisnis BMT TUMANG ke-8 beberapa waktu lalu. Lebih jauh lagi, Bambang memberi penegasan bahwa semakin seseorang tidak memperhatikan bagaimana mengelola emosi, maka dampak yang akan terjadi semakin buruk. “Untuk itu, perlu kiranya kita belajar bagaimana mengelola emosi. Salah satu caranya ialah dengan metode EFT (Emotional Freedom Technique),” tandasnya.

EFT, lanjut Bambang, adalah sebuah terapi psikologi praktis yang dapat menangani banyak penyakit, baik itu penyakit fisik dan penyakit psikologis (masalah pikiran dan perasaan). EFT menyelaraskan sistem energi tubuh pada titik-titik meridian di tubuh, dengan cara mengetuk (tapping) dengan ujung jari. Teknik ini sangat mudah dipelajari dan dapat diterapkan di mana saja, untuk siapa saja.

” Menurut teori ilmu EFT, penyebab segala macam emosi negatif adalah terganggunya sistim energi tubuh. Dan emosi-emosi negatif yang tak terselesaikan, menjadi penyebab utama pada hampir semua penyakit fisik kita. Sedangkan praktik-praktik penyembuhan barat sekarang ini masih mengabaikan fakta bahwa emosi negatif adalah penyebab dari 85% penyakit fisik. Dan itulah mengapa EFT sering kali berhasil pada kasus-kasus yang tidak dapat ditangani dengan terapi atau pengobatan konvensional.” ujarnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top