Inilah 5 Indikator Keluarga Samara

Pengajian Membangun Keluarga Utama (MKU) BMT TUMANG kembali digelar. Kali ini pengajian diselenggarakan di kediaman pengelola, Jumadi, Bendosari 04/01, Cepogo, Boyolali. Pengajian rutin yang bergulir 2 bulanan tersebut merupakan bagian dari komitmen internal managemen BMT TUMANG dalam membina mental-spiritual segenap pengawas, pengurus dan pengelola BMT TUMANG.

Dalam sambutannya, Adib Zuhairi selaku Direktur Utama BMT TUMANG mengatakan bahwa pengajian MKU adalah bagian dari proyeksi besar dalam membangun keluarga dari segenap pengawas, pengurus, dan pengelola BMT TUMANG untuk menjadi keluarga yang utama. Artinya, keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah sekaligus menjadi panutan bagi keluarga yang lain. Baik dalam urusan ibadah, amaliyah hingga akhlak yang baik. “Pengajian ini memiliki fungsi ganda, yakni memberi penguatan terhadap kekokohan iman dan akhlak keluarga internal dan ‘menularkan’nya ke masyarakat luas. Ini adalah visi mulia yang diemban BMT TUMANG, maka harus disukseskan secara serius dan berkesinambungan,” tandasnya.

Sementara itu, sebagai pemateri utama dalam pengajian yang diselenggarakan pada Ahad, 4 September 2016 lalu tersebut adalah Ustadz Amin Mustofa, S. Ag dari Surakarta. Dalam kesempatan tersebut Ustadz Mustofa lebih memberi pesan perihal bagaimana ciri keluarga sakinah, mawadah, warohmah (samara). “Keluarga samara itu tidak mudah untuk diwujudkan. Membutuhkan kesepahaman bersama dengan pasangan dan memiliki indikator tertentu.” katanya.

Indikator keluarga disebut sakinah, mawadah, warohmah itu, lanjut Ustadz Amin Mustofa, antara lain bila suami istri itu memiliki sikap yang murah hati, menegakkan sholat berjamaah, gemar menjalin silaturahim, berbuat baik atau berbakti kepada orang tua/mertua, serta senantiasa menjaga kebersamaan dengan pasangan. “Jika indikator ini telah ‘melekat’ dari sebuah keluarga, maka Inshaallah keluarga tersebut sakinah mawadah warohmah,” tandasnya.

Hanya saja, imbuh Ustadz Amin Mustofa, untuk mewujudkan keluarga yang samara bukanlah perkara mudah. Setiap pasangan suami-istri harus memiliki visi yang sama. Jika telah memiliki visi yang sama, niscaya langkah untuk mewujudkan keluarga yang samara akan mudah.

Sementara itu, pengajian yang dihadiri sekitar 200-an jamaah tersebut juga diisi dengan pemberian santunan kepada 10 dhuafa. Dwi Rochmiathy selaku Ketua Pengurus BMT TUMANG yang berkesempatan menyampaikan santunan memberi pesan bahwa kepedulian BMT TUMANG kepada para dhuafa adalah bagian dari dakwah sosial yang pada prinsipnya juga menjadi misi dari lembaga itu sendiri. “Salah jika orang menilai BMT TUMANG hanya berorientasi pada keuntungan saja. Namun, BMT TUMANG juga memiliki misi mulia sebagai lembaga keuangan syariah yang peduli dengan kaum dhuafa dan fakir miskin,” tandasnya.

Santunan BMT TUMANG tersebut tentu disambut penuh suka cita oleh para penerima santunan. Salah satunya Joko Supriyanto. Menurutnya, santunan yang diberikan BMT TUMANG bisa meringankan beban ekonomi keluarganya. “Terima kasih atas bantuan dari BMT TUMANG. Sungguh, bagi kami ini tak ternilai harganya, semoga BMT TUMANG semakin berkah dan semakin banyak memberi manfaat bagi orang-orang seperti kami,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top