‘Melepas’ Cacat Diri dan Kebiasaan Buruk

Sejenak mari kita mawas ke dalam, introspeksi diri, ‘melihat’ segala bentuk kekurangan dan kebiasan buruk yang sampai saat ini masih ‘melekat dari diri kita. Kebiasaan-kebiasaan yang kurang bermanfaat dan malah cenderung ‘merusak’ hidup dan kehidupan kita. Entah itu kehidupan kita dalam beragama, mencari rezeki, bersosialisasi atau berumah tangga.

Mengoreksi diri sendiri adalah sebuah proses untuk ‘melepaskan’ diri dari bercokolnya sebuah kebiasaan buruk atau negatif. Sebuah kebiasaan kontraproduktif yang semestinya kita ‘lawan’ dan usir dari dalam diri kita. Perlawanan kita terhadap kebiasan buruk itulah yang mendorong kita untuk berubah. Berubah menjadi pribadi yang baik, yang dihisai dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik pula.

Nah, untuk merubah sebuah kebiasaan yang buruk menjadi kebiasaan yang baik bukanlah perkara mudah. Sebab, kebiasaan adalah sesuatu pekerjaan atau aktivitas yang diulang-ulang yang tidak mengenal ‘nilai’. Ibarat kata sudah ‘mendarah-daging’. Barangkali kita termasuk beruntung dan bersyukur jika kebiasan yang kita bangun selama ini berupa kebiasaan yang baik. Yang memiliki nilai ibadah dan kemanfaatan. Namun, bagaimana halnya jika kebiasaan itu adalah sebuah keburukan?

Akan butuh banyak waktu, energi untuk melakukan perubahan kebiasaan (dari kebiasaan yang buruk menjadi kebiasaan yang baik). Dan itu bisa terwujud hanya dengan 3 langkah: BERTINDAK, SADARI, dan JAGA KEBERLANJUTANNYA (istiqomah).

Inilah setidaknya intisari dari Pengajian Bisnis ke-3 yang diselenggarakan rutin BMT TUMANG bersama Bambang Nugroho beberapa waktu lalu. Dalam kesempatan tersebut, Bambang juga menegaskan bahwa sebuah perubahan kebiasaan dari yang buruk ke yang baik adalah perlu adanya pemahaman dari ‘sifat’ kebiasaan itu sendiri. “Kita harus sadar bahwa kebiasaan itu bukanlah takdir. Kebiasaan itu bisaja untuk dibiarkan, dirubah, diganti atau malah disempurnakan. Untuk itu kita perlu mengenali apakah kebiasaan kita selama ini.” tandasnya.

Pengajian rutin dua pekanan yang dihadiri ratusan peserta yang merupakan anggota BMT TUMANG tersebut juga menyinggung soal bagaimana agar sebuah kebiasaan baik itu bisa ‘bertahan’ lama dalam keseharian kehidupan. Bahkan mendarah daging, mengabadi. “Untuk mempertahankan sebuah kebiasaan baik ialah dengan cara mengkondisikan diri dengan kesibukan yang produktif. Jangan kita beri peluang hal-hal yang bersifat negatif, kesia-siaan hadir menganggu fokus kita,” imbuh Bambang.

Seperti sebuah keburukan, sebuah kebiasaan baik juga akan bisa bertahan dan ‘terlindungi’ manakala kita telah berhasil membangun sistem yang kuat. Sistem yang berisi segala bentuk aktivitas kebaikan. “Yang menjadi catatan penting lainnya dari tema ini ialah bahwa jika kita sudah ‘jenuh’ dengan kebiasaan buurk, lalu kita ingin berubah, hijrah ke kebiasaan yan baik maka segera lakukan. ACTION! Jangan menunggu lama. Sekali lagi, yakinlah bahwa kebiasaan itu bukan takdir,” ujar Bambang.

Kini, sudah saatnya kita ‘lepas’ cacat diri dan kebiasaan buruk yang selama ini masih mendominasi sebagian aktivitas hidup kita. Harus ada tekad kuat dan aksi nyata untuk bergerak menuju pribadi yang lebih baik. Semoga.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top