BMT TUMANG Fasilitasi Pengrajin Tembaga Ikuti FGD

Dalam upaya merumuskan persoalan yang dihadapi pengusaha di sektor kriya, beberapa waktu lalu Badan Ekonomi Kreatif bekerjasama dengan Pusat Pengembangan Kewirausahaan (PPKwu) LPPM UNS Surakarta menyelanggarakan Focus Group Discussion (FGD) atau Diskusi Kelompok Terarah di Hotel Pose, Surakarta.

Dalam acara tersebut menghadirkan para pengusaha, akademisi serta para pengrajin tembaga, dalam hal ini diwakili oleh pengrajin tembaga dari Tumang, Boyolali. Sebanyak 20 peserta mengikuti FGD tersebut membahas beragam persoalan terkait dengan industri kriya. Di antaranya, permodalan, produksi, pemasaran, legalitas usaha, pengelolaan SDM hingga HAKI.

Salah seorang pembicara, Sriyanto –pengusaha tembaga dari Tumang– mengatakan bahwa untuk menjadi pengusaha tidaklah mudah. Setidaknya dia harus punya mimpi dan visi jauh ke depan yang diikuti etos kerja yang kuat. “Tak mungkin sukses diraih dengan sikap dan mental yang stagnan. Namun, harus ada upaya untuk memperbaiki motivasi kerja,” ujarnya. Lebih lanjut Sriyanto mengatakan bahwa sukses itu mesti direncanakan. Jika tidak direncanakan, maka kecil kemungkinan kesuksesan tersebut bisa diraih.

Hal senda juga di sampaikan Muhammad Mansyur yang juga seorang pengusa tembaga dari Tumang. “Jika kita ingin maju, berkembang, maka harus berani melangkah. Semua keputusan kita dalam usaha pasti ada risikonya, tapi jangan takut. Teruslah melangkah, nanti di sana kita akan dapat banyak pelajaran,” tandasnya.

Bukan hanya itu, Mansyur juga mensyaratkan bahwa kesuksesan juga mesti diupayakan dengan keberanian melangkah serta memiliki kemampuan berfikir yang beda dari kebanyakan orang. “Dan salah satu yang penting ialah jangan tinggalkan sedekah. Justru dari sedekah inilah sesungguhnya rezeki kita hadir sekaligus berkah,” tandasnya.

Dari sudut pandang akademisi, dalam hal ini diwakili oleh Sarah R. Pinta yang juga staf pengajar di Fakultas Seni Rupa UNS tersebut lebih mendorong pengrajin untuk keluar dari zona nyaman dan aman. Artinya, harus ada inovasi dari sisi karya atau produksi. “Pengrajin harus inovatif, bukan saja dari sisi desain namun juga dari aspek bahan baku,” tandasnya.

Sementara itu, Jumali, SE selaku wakil dari BMT dalam sesi tanya jawab menyampaikan bahwa selama ini BMT TUMANG telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kemandirian dan kemajuan pengrajin tembaga di Tumang. “Kami memiliki hubungan sejarah yang kuat dengan desa Tumang dan masyarakatnya yang rata-rata sebagai pengrajin tembaga. Kami mengambil jalur sebagai fasilitator di jalur permodalan dan kegiatan-kegiatan lain. Termasuk acara FGD ini,” ujarnya.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top